Di sekitar Taman Nasional Way Kambas, tempat di mana Suaka Rhino Sumatera berdiri, sebuah jajak pendapat kecil dilakukan: dari 100 orang penduduk yang bermukim di sana, 99 di antaranya mengaku tak pernah sekalipun melihat badak seumur hidup mereka.
Badak, satwa purba bermata redup itu, kini hidup menyerupai hantu di tanah airnya sendiri. Ia ada, namun lebih sering mewujud sebagai mitos atau bayang-bayang di lebatnya dedaunan. Jumlah mereka kini diperkirakan menyusut di bawah angka 80 ekor. Spesies Dicerorhinus sumatrensis ini perlahan-lahan sedang menapaki jalan sunyi menuju kepunahannya sendiri.
Kisah hilangnya badak dari bentang alam kita pada dasarnya adalah kisah tentang kesepian yang mematikan. Di rimba Mahakam Ulu, Kalimantan, seekor badak betina bernama Pari melangkah sendirian di antara pepohonan raksasa. Ia bernasib sama dengan kawanannya di Aceh Timur yang terisolasi dari dunia luar. Hutan yang dulunya merupakan ruang hidup yang riuh, kini terpecah dan mengerut, memisahkan satu individu dari individu lainnya.
Kesepian, bagi spesies ini, bukanlah sekadar kiasan puitis, melainkan sebuah patologi medis. Para ahli menyebutnya Allee Effect. Ketika seekor badak betina hidup menyendiri dan tak kunjung bertemu pasangan untuk membuahkan kehidupan, siklus birahinya yang panjang akan menghukum tubuhnya sendiri. Rahim mereka tak lagi menyimpan janin, melainkan menumbuhkan kista dan tumor. Kesendirian membuat mereka mandul. Tubuh satwa itu perlahan menyerah pada keputusasaan ekologis.
Namun, di ambang senjakala itu, ikhtiar manusia tak lantas padam. Manusia, yang kerakusannya seringkali merusak alam, kini mencoba menebus dosanya dengan mengerahkan segala daya—dari ritus kuno hingga sains hiper-modern.
Di Kalimantan dan Aceh, tim penyelamat merancang operasi evakuasi yang rumit. Mereka memetakan hutan, membangun lubang jebakan, hingga menyewa helikopter untuk memindahkan badak-badak kesepian itu dari rimba yang tak lagi ramah menuju suaka perlindungan. Kerennya, arogansi teknologi ini tetap menunduk pada kearifan lokal; evakuasi baru dilakukan setelah masyarakat menggelar upacara adat untuk meminta restu pada semesta dan para leluhur.
Di tempat lain, kepunahan coba dilawan lewat tabung kaca. Di sebuah laboratorium di Institut Pertanian Bogor (IPB), masa depan badak digantungkan pada lemari pembeku bersuhu ekstrem. Melalui kolaborasi lintas negara dan dukungan pendanaan konservasi, ilmuwan membangun apa yang disebut sebagai Biobank. Di sana, sel telur, sperma cacat yang dikumpulkan dengan susah payah, hingga sel kulit dari badak bernama Pahu dikultur dan dibekukan.
Mereka bertindak layaknya Nabi Nuh di abad ke-21. Jika bahtera tak lagi sanggup menampung tubuh satwa yang rapuh, maka sel-sel hidup ( immortalized cell line) itulah yang diselamatkan. Melalui teknologi Assisted Reproductive Technology (ART) atau bayi tabung, ilmuwan merancang penciptaan sperma dan sel telur artifisial, hingga bersiap untuk jalan terakhir yang terdengar seperti fiksi ilmiah: kloning.
Kita berhadapan dengan sebuah ironi zaman kita: untuk menyelamatkan makhluk yang paling purba dan liar, kita dipaksa bergantung pada campur tangan manusia dan artifisialitas yang paling rumit.
Mungkin, obrolan cemas di Rumah KEHATI di penghujung Juli itu berpusat pada satu titik waktu: Tahun 2045. Pada perayaan seratus tahun kemerdekaan nanti, apakah anak cucu kita hanya akan mengenal badak sebagai spesies dinosaurus baru—sebuah fosil ingatan yang kelak hanya bisa digambar ulang oleh kecerdasan buatan (AI)?.
Pertanyaan itu menggantung, mengingatkan kita bahwa menunda kiamat sebuah spesies tak cukup hanya lewat seminar. Sebab waktu terus berdetak, dan di sisa-sisa hutan yang terluka, badak-badak kita tak punya kemewahan untuk menunggu lebih lama.