Bogor, 6 Juli 2026 – Program TFCA-Sumatera menyelenggarakan Lokakarya Aliansi Konservasi TFCA-Sumatera: Integrasi Rantai Nilai dan Off-Taker Matchmaking Bisnis Kopi Berkelanjutan di Hotel Amaroossa, Bogor, pada 6–10 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penajaman proposal Siklus Hibah X TFCA-Sumatera, sekaligus menyelaraskan konsep pengembangan bisnis kopi berkelanjutan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Lokakarya ini diikuti oleh empat calon penerima hibah yang mengusulkan pengembangan bisnis kopi berkelanjutan, yaitu Konsorsium Kopi Konservasi Gayo, Mitra Aksi, Konsorsium Caritas, dan Konsorsium Telapak. Selama lima hari, para peserta memperoleh pendampingan intensif untuk memperkuat rancangan program, model bisnis, serta strategi implementasi yang akan dikembangkan di lanskap-lanskap prioritas konservasi di Sumatra.
Untuk memperkaya perspektif dan memberikan masukan praktis, TFCA-Sumatera juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor yang memiliki pengalaman dalam pengembangan kopi berkelanjutan, pembiayaan, hingga akses pasar. Mereka adalah Emma Fatma dari Kopi Agrotropik, Ade Aryani, Eksekutif SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia), Maria Magdalena Silangen dari Kumpul Impact, Ivan Hartanto dari Sucafina, serta Fitrian Ardiansyah dari ADM Capital. Kehadiran para narasumber diharapkan dapat membantu peserta menyusun proposal yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki model bisnis yang layak dan berkelanjutan.
Lokakarya ini mempertemukan calon mitra, praktisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan rantai nilai kopi secara menyeluruh, mulai dari tingkat budidaya (farm), pengolahan pascapanen, penguatan kelembagaan petani, hingga perluasan akses pasar melalui kemitraan dengan off-taker di tingkat lokal maupun nasional.
Meski kopi bukan merupakan fokus utama program konservasi TFCA-Sumatera, komoditas ini telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat di berbagai lanskap prioritas konservasi di Sumatra. Oleh karena itu, pengembangan kopi berkelanjutan dipandang sebagai salah satu pendekatan strategis untuk menghubungkan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan upaya pelestarian hutan.
“Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh perlindungan kawasan hutan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat di sekitarnya untuk memperoleh penghidupan yang layak. Ketika masyarakat memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan, tekanan terhadap hutan dapat dikurangi secara signifikan,” ujar Samedi, selaku Direktur Program TFCA-Sumatera.
Berbagai pengalaman di Indonesia maupun negara lain menunjukkan bahwa perlindungan hutan akan sulit dicapai apabila masyarakat yang hidup di sekitarnya masih menghadapi kerentanan ekonomi. Keterbatasan pilihan mata pencaharian sering kali mendorong terjadinya pembalakan liar, perambahan kawasan hutan, perburuan satwa liar, hingga konversi lahan.
Di sejumlah lanskap prioritas TFCA-Sumatera, kopi telah dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Tantangan yang dihadapi saat ini bukan lagi bagaimana memperkenalkan komoditas baru, melainkan bagaimana meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang sudah ada agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Melalui lokakarya ini, TFCA-Sumatera mendorong lahirnya model bisnis kopi berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun rantai pasok yang terintegrasi. Pendekatan tersebut mencakup penerapan praktik budidaya yang baik, peningkatan mutu produk, penguatan kelembagaan ekonomi petani, pengembangan kapasitas pengolahan hasil, hingga membangun kemitraan jangka panjang dengan pelaku industri dan pembeli (off-taker).
Bagi TFCA-Sumatera, kopi berkelanjutan merupakan jembatan antara pembangunan ekonomi masyarakat dan konservasi hutan. Hutan yang tetap terjaga menyediakan jasa lingkungan yang penting bagi keberlanjutan produksi kopi, seperti ketersediaan air, kesuburan tanah, stabilitas iklim mikro, serta kualitas hasil panen. Sebaliknya, ketika petani memperoleh pendapatan yang layak dari usaha kopi, kebutuhan untuk membuka lahan baru di kawasan hutan dapat ditekan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus pembangunan yang saling menguatkan: petani semakin sejahtera, kelembagaan ekonomi masyarakat semakin kuat, kualitas dan nilai jual kopi meningkat, tekanan terhadap hutan berkurang, sementara kelestarian hutan tetap terjaga sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
Melalui lokakarya ini, TFCA-Sumatera berharap para calon mitra mampu menyusun proposal yang lebih matang, memiliki model bisnis yang berkelanjutan, serta membangun kolaborasi yang kuat dengan berbagai pihak dalam pengembangan rantai nilai kopi di Sumatra.
Tentang TFCA-Sumatera
TFCA-Sumatera (Tropical Forest Conservation Action for Sumatra) merupakan program hibah konservasi hutan tropis hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat melalui skema Debt-for-Nature Swap. Program ini mendukung berbagai upaya pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan spesies kunci, restorasi lanskap, serta pemberdayaan masyarakat di lanskap-lanskap prioritas di Pulau Sumatra. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah memperkuat mata pencaharian masyarakat berbasis komoditas berkelanjutan sebagai bagian dari strategi konservasi jangka panjang.