...

22 Oktober 2020

Air yang Datang dari Hutan yang Hilang

Membaca Banjir Besar Sumatra 2025 dari Lanskap Batang Toru

Air itu datang tanpa banyak suara peringatan. Pada akhir November 2025, sungai-sungai di Tapanuli berubah rupa. Alirannya keruh dan deras, membawa batang-batang kayu berdiameter besar dari arah hulu. Di sejumlah desa, banjir bandang menerjang dengan cepat, merobohkan rumah, memutus jalan, dan memaksa warga mengungsi dalam waktu singkat. Sebagian orang menyebutnya sebagai bencana alam. Sebagian lain bertanya pelan: dari mana semua kayu itu berasal?

Pertanyaan itu membawa kita ke Batang Toru, lanskap pegunungan yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng ekologis Sumatra Utara. Di sanalah kisah banjir besar 2025 bermula, jauh sebelum hujan turun dengan intensitas ekstrem.

Hujan memang menjadi pemicu langsung. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan bahwa Siklon Tropis Senyar yang aktif pada 23–29 November 2025 membawa curah hujan luar biasa tinggi. Dalam enam hari, hujan yang tercatat di Stasiun Meteorologi FL Tobing mencapai lebih dari 660 milimeter. Bagi wilayah dengan topografi curam, angka ini sudah cukup untuk menimbulkan tekanan besar pada sistem alam.

Namun hujan bukanlah cerita lengkapnya.

Jika hanya hujan yang disalahkan, maka banjir bandang akan menjadi takdir yang tak terhindarkan. Padahal, data spasial menunjukkan bahwa lanskap yang menerima hujan itu telah berubah drastis dalam waktu singkat. Perubahan inilah yang membuat hujan ekstrem berubah menjadi bencana besar.

Sepanjang 2025, citra satelit Sentinel-2 merekam perubahan mencolok di Blok Barat Lanskap Batang Toru. Pada awal tahun, tutupan hutan masih mendominasi. Tetapi memasuki pertengahan hingga akhir tahun, terutama pada kuartal ketiga dan keempat, pola lanskap berubah cepat. Jalan-jalan lurus muncul membelah hutan. Petak-petak lahan terbuka terbentuk dengan susunan rapi.    Analisa bukaan tutupan lahan di daerah 8 hulu-hilir DAS seluas 536.920,57 ha terdapat 98.075,49 ha bukaan hutan sepanjang 2025. Pola ini bukan ciri ladang kecil atau kebun rakyat, melainkan pembukaan lahan skala besar yang terencana.

Bukaan-bukaan ini banyak terjadi di wilayah Area Penggunaan Lain, terutama di antara Daerah Aliran Sungai Bangop, Tungka, dan Lumut. Dari udara, lanskap itu tampak seperti jaring yang perlahan merobek hamparan hijau. Dalam satu tahun, analisis menunjukkan puluhan ribu hektare hutan di delapan DAS utama Batang Toru dan sekitarnya mengalami bukaan. Di Blok Barat saja, ribuan hektare lahan teridentifikasi terdampak longsor pada akhir 2025.

   Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Dalam sistem hidrologi, ia bekerja sebagai penyangga utama. Tajuk pohon memperlambat jatuhnya air hujan, akar-akar mengikat tanah di lereng curam, dan lapisan tanah hutan menyimpan air untuk dilepas perlahan ke sungai. Ketika hutan dibuka, seluruh mekanisme ini runtuh sekaligus.

Air hujan yang seharusnya diserap tanah langsung mengalir di permukaan. Di wilayah pegunungan seperti Batang Toru, aliran ini bergerak cepat, menggerus tanah, dan memicu longsor. Dalam kondisi hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari, tekanan ini menjadi berlipat ganda.

Pada akhir November 2025, tekanan itu mencapai puncaknya. Lereng-lereng runtuh di banyak titik. Kayu-kayu dari area bukaan dan longsoran terbawa masuk ke alur sungai. Anak-anak sungai yang sempit tersumbat oleh gelondongan kayu dan material tanah. Air tertahan sejenak, lalu meluap dengan kekuatan besar. Inilah mekanisme klasik banjir bandang: bukan naik perlahan, melainkan menghantam tiba-tiba.

Di hilir, dampaknya terasa paling nyata. Desa-desa seperti Sibabangun dan Garoga menjadi saksi bagaimana air membawa sisa-sisa perubahan lanskap dari hulu. Banjir bukan hanya merendam, tetapi merusak. Kayu-kayu besar menghantam rumah dan jembatan, meninggalkan jejak kerusakan yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Peristiwa Batang Toru mencerminkan gambaran yang lebih luas tentang banjir besar Sumatra 2025. Di banyak tempat, pola yang sama berulang. Hujan ekstrem datang ke wilayah yang hulunya telah kehilangan daya tahan ekologis. Sungai-sungai yang semestinya menjadi saluran alami berubah menjadi jalur cepat bagi air, sedimen, dan kayu.

Dari sudut pandang ilmiah, ini adalah bencana ekologis. Bukan semata-mata karena iklim yang berubah, tetapi karena lanskap yang tidak lagi mampu menjalankan fungsinya. Perubahan iklim memperbesar risiko, sementara pembukaan hutan menentukan seberapa besar dampaknya.

Kasus Batang Toru mencerminkan tantangan pengelolaan lanskap di Sumatra secara lebih luas. Banjir besar 2025 menunjukkan bahwa ketahanan wilayah terhadap bencana sangat ditentukan oleh kondisi ekosistem hulu. Dalam konteks perubahan iklim, curah hujan ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi. Tanpa pengelolaan DAS yang berkelanjutan, risiko bencana akan terus meningkat.

Jika tidak ada perubahan dalam cara kita mengelola hutan dan DAS, banjir bandang seperti yang terjadi pada 2025 bukan lagi peristiwa luar biasa. Ia akan menjadi pola yang berulang, setiap kali hujan ekstrem datang.

Bagi TFCA-Sumatera, peristiwa ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis lanskap dan DAS—mengintegrasikan konservasi hutan, pengelolaan lahan, serta perlindungan fungsi ekologis sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana dan pembangunan berkelanjutan.

Sumber: Short report Analisa Bukaan Lahan di lanskap Tapanuli (Blok Barat lanskap Batang Toru) berdasarkan citra sentinel tahun 2025.

SHARE:
Berita lainnya