...

More Economic Value from Catfish Cultivation

Sukorahayu adalah desa di ujung Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Desa ini menjadi pintu masuk Way Kambas dari sebelah selatan. Hanya sungai yang menjadi pemisah antara desa dengan kawasan habitat badak Sumatera tersebut.

Mayoritas masyarakatnya hidup sebagai nelayan. Ketika pada musim-musim tertentu di mana hasil laut tak bisa diandalkan, sebagaian masyarakat beralih menjadi buruh penambang pasir atau mencari ikan sungai. Kadang mereka ‘tak sadar’ masuk ke dalam kawasan taman nasional untuk mencari penghidupan.

Melalui dukungan TFCA-Sumatera, Yayasan Pendidikan Konservasi dan Lingkungan Hidup Indonesia (YPKLHI) membantu masyarakat membudidayakan ikan lele sebagai pendapatan alternatif saat sulit melaut. Serangkaian pelatihan, pembuatan demo plot (demplot), pembangunan kelompok usaha, sampai dengan pengembangan unit bisnis dikenalkan pada masyarakat. Hasilnya, Ijuk, Isyono dan kawan-kawannya yang tergabung dalam kelompok usaha “Catfish Timur”, berhasil membudidayakan lele secara lebih produktif dan menghasilkan keuntungan. Uang yang mereka dapat disepakati untuk disisihkan bagi aktifitas rehabilitasi lahan maupun kegiatan sosial kemasyarakatan lain.

...
...

Ada banyak tantangan yang mereka hadapi termasuk saat benih lele yang dipijah terkena penyakit ataupun tempat pembesaran lele-lele mereka terkena banjir. Ternyata bencana tersebut juga membawa hikmah. Pak Ijuk, lantas membuat alternatif mengembangkan budidaya udang Vaname. Berbekal alat-alat sederhana, ia melakukan percobaan pengembangan udang di kolam bekas lelenya. Isyono, anggota kelompok yang lain,
memilih mengembangkan budidaya ikan hias yang mengikuti tren pasar.

Semua aktifitas ini membuat masyarakat sadar bahwa, dengan sedikit kegigihan dan kreatifitas, mereka tetap dapat mendapatkan penghidupan, tanpa harus menadah hasil alam dari dalam kawasan taman nasional.

...
...
...