...

22 Oktober 2020

Groundbreaking for the Construction of the Sumatran Rhino Sanctuary in Aceh

–          Badak Sumatra Nyaris Punah, SRS Jadi Upaya Penyelamatan

–          Cegah Kepunahan, Suaka Badak Sumatra Dibangun di Aceh Timur

ACEH TIMUR – Peletakan batu pertama oleh Bupati Hasballah HM Thaib, menandai awal mula pembangunan Suaka Badak Sumatra atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Kamis (12/11/2021) petang. Sebelumnya, konsorsium Badak Sumatra yang dimotori oleh Forum Konservasi Leuser (FKL), sudah melakukan  penelitian panjang terkait lokasi pembangunan itu.

Kawasan tempat SRS dibangun berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Serbajadi, tidak jauh dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). SRS akan dibangun di atas lahan seluas 120 Ha. Di atas lahan itu nantinya akan dibangun sekitar 11 kandang dengan rata-rata luas 11 hektare.  Kemudian ditambah dengan fasilitas areal perkantoran pengelola kawasan.

Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) menjadi salah satu satwa yang masuk dalam daftar merah Organisasi Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Populasinya terus berkurang karena banyak faktor.

“Pembangunan SRS ini adalah langkah penting. Ini masa terakhir kita melakukan penyelamatan badak dari ancaman kepunahan. Karena populasinya kurang dari 100 individu,” ujar Dedi Yansyah, Koordinator Forum Konservasi Leuser (FKL), Minggu (13/11/2021).

Pembangunan ditarget rampung pada Maret 2022. Bupati Hasballah mendukung penuh upaya penyelamatan Badak Sumatra. Di SRS nantinya, akan dilakukan upaya pengembangbiakan. Badak-badak yang ada di sejumlah habitat akan dievakuasi dan dikawinkan di sana.

“Kita harapkan, paling tidak lima tahun ke depan, ada individu badak yang lahir di SRS Aceh,” kata Dedi.

Kata Dedi, pihaknya tidak hanya membangun SRS. Mereka akan melakukan pengembangan masyarakat untuk meningkatkan taraf perekonomian. Selama ini, penerimaan masyarakat cukup baik terkait pembangunan SRS. Konsorsium penyelamatan badak terus melakukan upaya sosialisasi supaya masyarakat paham pentingnya upaya konservasi.

“Salah satu bagian penting dari program kami adalah pelibatan masyarakat. Masyarakat setempat diajak terlibat mulai dari tahap pembangunan hingga pengelolaan SRS ke depan. Program pemberdayaan masyarakat juga akan dilakukan.   Ke depannya masyarakat diajak terlibat dalam penyediaan pakan badak hingga program pertanian intensif,” katanya.

Pembangunan suaka badak disokong penuh oleh Aksi Nyata Konservasi Hutan Tropis (TFCA) Sumatera. Dana Hibah ini mendukung upaya penyelamatan melalui SRS di Aceh Timur dan Lampung Timur. Jika ditotal, hibah dana yang dikucurkan mencapai Rp100 miliar untuk mendukung keduanya.

Program penyelamatan Badak Sumatra menjadi salah satu prioritas TFCA-Sumatera dalam upaya konservasi. “TFCA-Sumatera sangat bersyukur bisa berkontribusi untuk menyelamatkan badak Sumatra. Ini merupakan bagian dari rencana besar. 4, memberikan porsi pendanaan yang besar untuk konservasi badak. Kami sangat berharap ini bisa berhasil. Karena kondisi badak sumatra ini sangat menghawatirkan,” kata Direktur TFCA-Sumatera, Samedi.

Bagi dia, upaya penyelamatan Badak ini harus dilakukan secara bersama antara para pemangku kepentingan.   Andil pemerintah, organisasi non pemerintah, akademisi dan masyarakat sangat dilakukan untuk mencegah kepunahan.

“Kita berusaha. Kalau kita tidak melakukan sesuatu, maka badak kita bisa habis. Seperti yang terjadi di Malaysia. Dengan kita melakukan sesuatu maka pasti ada peluang. Jangan sampai di ulang tahun ke 100 Indonesia, kita mengumumkan bahwa badak Sumatra sudah punah,” ujar Samedi.

Bupati Hasballah juga mendukung program pemberdayaan masyarakat yang akan dilakukan dalam wilayahnya. Sebelumnya, Hasballah mengakui jika masyarakat belum memahami betul soal suaka badak yang akan dibangun. Namun pihaknya bersama konsorsium terus melakukan sosialisasi.

“Kenapa kami mendukung, kami ingin masyarakat Simpang Jernih, masyarakat ekonominya bangkit dengan kehadiran suaka badak. Dan yang paling penting satwa juga selamat. Kita berjuang penuh dan kita dukung penuh supaya masyarakat bisa berdampingan,” ungkap laki-laki yang akrab disapa Rocky itu.

Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi -Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian LHK Jefry Susyafrianto mengatakan, pembangunan SRS di Aceh Timur adalah bagian dari Rencana Aksi Darurat penyelamatan Badak Sumatera 2018-2021.

“Kita melihat ini merupakan peluang yang luar biasa. Ada keterlibatan banyak unsur. Bertanggung jawab menyelamatkan keberadaan Badak Sumatra,” ujar Jefry

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Adhi Nurul Hadi mengatakan, selama ini pihaknya terus melakukan patroli dan monitoring. Hadi pun mengatakan, populasi Badak Sumatra di TNGL berada di kawasan habitat yang terisolir. Kondisi ini justru akan memperbesar potensi inbreeding (kawin sedarah) tinggi. Kondisi ini sangat tidak baik bagi keberlangsungan hidup badak.

“Dengan SRS ini harapannya, ada koneksi antara habitat badak di TNGL dengan habitat di  luar TNGL. Sehingga ada persilangan. Mudah-mudahan nanti apa yang dihasilkan, bisa menyehatkan kembali struktur genetika dari Badak yang ada di alam,” ungkap Hadi.

Dalam pemaparan FKL disebutkan, dahulu Badak Sumatra tersebar luas di Asia, mulai dari kaki himalaya di Bhutan, India timur-laut (Assam), Tiongkok, Thailand dan lainnya.

Pada 1974, Badak Sumatra ditemukan di Sumatra, Sabah dan Peninsular Malaysia hingga Kalimantan (Borneo). Sejak 1994 hingga 2007, populasi di kawasan semenanjung Malaysia sudah lama tidak terkonfirmasi. Hingga akhirnya pada 2013, Badak Sumatra hanya ditemukan di lampung, Aceh dan Kalimantan Timur.

Populasi Badak kian tergerus. Aktifitas perambahan kawasan hingga perburuan menjadi ancaman nyata. Belum lagi, lambatnya siklus reproduksi dan singkatnya masa birahi badak berpengaruh pada perkembangan jumlah populasi badak.

Melansir kehati.or.id, data Population and Viability Analysis (PVA) 2015 menunjukkan di Kawasan Ekosistem Leuser masih ada empat kantung populasi Badak Sumatera yang sebagian besar diantaranya tidak viable (layak). Survei okupansi yang telah dilaksanakan Forum Konservasi Leuser (FKL) 2017/2018, memantau data terkini kondisi habitat dan populasi habitat Badak Sumatera di 4 kantung populasi tersebut.

Hasil survei ini dijadikan dasar untuk memastikan langkah intervensi yang diambil untuk penyelamatan populasi Badak Sumatra di masing-masing kantung populasi. Bila kantung yang tidak viable ini tidak diselamatkan, dalam beberapa tahun mendatang populasi badak dipastikan akan punah walaupun tanpa ada perburuan. (release – ist)

SHARE:
Berita lainnya