Barumun Nagari Wildlife Sanctuary : Kolaborasi Multipihak untuk Menyelamatkan Harimau Sumatera

Monang, harimau Sumatra jantan korban jerat di Hutan Batang Toru, sedang berada di kandang isolasi. Monang dipisahkan dari Gadis dan 2 anaknya untuk menghindari kontak fisik dengan mereka.

Monang, harimau Sumatra jantan korban jerat di Hutan Batang Toru, sedang berada di kandang isolasi. Monang dipisahkan dari Gadis dan 2 anaknya untuk menghindari kontak fisik dengan mereka.

Barumun, 1 Maret 2018.  Suatu kolaborasi yang apik antara masyarakat, pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat tercipta di kawasan Barumun untuk menyelamatkan satwa Harimau yang jumlah populasinya di alam terus menyusut. Berdasarkan hasil Population Viability Analysis (PVA) pada tahun 2016 saat ini populasi harimau sumatera diperkirakan tinggal 604 ekor di habitat alaminya. Penurunan populasi itu utamanya disebabkan oleh perburuan dan kerusakan habitat.

Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNSW), sebuah area perlindungan seluas 23 Ha, berada di dekat Suaka Margasatwa Barumun, Sumatera Utara didedikasikan khusus sebagai tempat perlindungan satwa harimau. Areal yang diresmikan pada bulan November 2016 ini awalnya merupakan milik seorang pengusaha bernama Kasim. Ia menghibahkan lahan ini untuk merehabilitasi harimau yang tertangkap masyarakat untuk dilepaskan kembali ke SM Barumun.

BNSW dibangun sebagai tempat penyelamatan, rehabilitasi, perkembangbiakan dalam rangka proses peningkatan populasi dan atau pengawetan jenis. Pembangunan dan pengembangan suaka harimau ini didukung oleh TFCA-Sumatera, yg merupakan program kerjasama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat. Kementerian KLHK  bersama TFCA-Sumatera, Pilar Barumun, Yayasan Bodi Cita dan sebuah mitra swasta menjalin kolaborasi untuk membangun sanctuary Harimau ini.

Saat ini BNSW dihuni oleh 4 ekor harimau. Salah satunya adalah Gadis, nama harimau sumatera betina yang direhabilitasi tahun 2016 dari TN Batang Gadis karena terkena jerat pemburu dan harus diamputasi kaki kanan depannya. Penghuni lain bernama Monang, harimau sumatera jantan yang berhasil dievakuasi pada tahun 2017 karena kasus yang sama berasal dari Desa Parmonangan, Kabupaten Simalungun. Keduanya kini telah memiliki 2 anak yang lahir pada Desember 2018 lalu.

Menurut Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekargaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pembangunan suaka Barumun merupakan contoh kolaborasi strategis antar para pemangku kepentingan.  “BNWS ini juga menjadi salah satu keberhasilan pemerintah dalam upaya pelestarian jenis satwa dilindungi  berupa peningkatan populasi satwa liar di alam. Kemitraan ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya kantong populasi baru satwa liar terutama harimau sumatera“ ujarnya.  Kemitraan dalam upaya konservasi menjadi penting saat ini karena upaya konservasi tidak bisa dibebankan pada pemerintah semata.

Selain mendorong pembangunan Sanctuary Barumun, Konsorsium Barumun bersama TFCA-Sumatera juga melakukan penguatan kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPH-K) Barumun untuk dikembangkan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi melalui model ekowisata di kawasan Suaka Margtasatwa (SM) Barumun dan sekitarnya. KPH-K Barumun menjadi salah satu solusi strategis untuk mengatasi permasahalan pengelolaan hutan yang implementasinya dapat mengakomodir peran masyarakat dan mitra. Sementara kegiatan ekowisata dengan melibatkan masyarakat dapat menjadi  insentif pelibatan masyarakat dalam melindungi SM Barumun dan sekitarnya.

Riki Frindos, Direktur Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) yang juga hadir pada kunjungan ke lokasi menyebutkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan di Barumun merupakan  bagian dari upaya mempertahankan kekayaan hayati Indonesia.  “Bila kita abai melakukan upaya perlindungan dan peningkatan populasi satwa seperti harimau dan gajah ini, maka kepunahan satwa akan menjadi suatu keniscayaan yang tak terelakkan” ujarnya. KEHATI sendiri aktif mendorong terwujudnya public-private-people partnership di berbagai daerah Indonesia untuk memastikan fokus dan perhatian terhadap alam dan kelestarian hidupan liar tetap terjaga di tengah-tengah demam publik pada isu-isu non-lingkungan.

Rehabilitasi Gajah Sumatera di BNWS

Para gajah penghuni BNWS bersama mahoutnya. Dokter hewan dari Vesswic atau BNWS rutin melakukan pengecekan kondisi kesehatan gajah-gajah jinak tersebut.

Para gajah penghuni BNWS bersama mahoutnya. Dokter hewan dari Vesswic atau BNWS rutin melakukan pengecekan kondisi kesehatan gajah-gajah jinak tersebut.

Kawasan BNWS juga penting sebagai tempat perlindungan gajah, dimana saat ini terdapat 15 gajah jinak di kawasan BNWS. Kondisi kesehatan gajah di kawasan BNWS dipantau oleh mitra VESSWIC melalui pendanaan TFCA-Sumatera. VESSWIC selalu mengirimkan tim dokter secara rutin melakukan pengecekan kondisi gajah.

Pengecekan kesehatan ini meliputi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gajah seperti kondisi fisik, status kesehatan dan status reproduksi. Selain gajah jinak di BNW, TFCA-Sumatera dan VESSWIC juga melakukan pengecekan gajah jinak sebanyak 210 individu di 20 Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.

Upaya ini selaras dengan target KLHK untuk meningkatkan populasi gajah baik gajah jinak ataupun gajah liar di alam. Potensi gajah jinak sendiri adalah sebagai cadangan genetika gajah Sumatera. Gajah-gajah tersebut dapat menjadi pemerkaya genetik terhadap gajah liar yang populasinya saat ini sudah dalam kondisi terancam punah, sekaligus bisa menjadi pengganti populasi di alam liarnya nanti.

Samedi, Direktur Program TFCA-Sumatera menyebutkan bahwa dukungan bagi pembangunan suaka merupakan salah satu strategi mengurangi konflik satwa-manusia yang sering terjadi di Sumatra serta memulihkan populasi di alam dengan melepasliarkannya (termasuk keturunannya) kembali.  Kepentingan manusia dan hidupan satwa liar sama-sama harus dilindungi.   “Upaya perlindungan satwa harus dilakukan secara simultan, tidak hanya perlindungan di dalam kawasan, tapi perlindungan di luar kawasan juga memegang peranan penting, karena pada kenyataannya sebagian besar hidupan liar justru berada di luar kawasan-kawasan konservasi, ujarnya. (Yudha Arif Nugroho/Ali Sofiawan)