...

22 Oktober 2020

Shared Learning in Time of Pandemy

Pageblug Covid-19 belum reda, sementara kegiatan dan segala aktifitas tetap harus dijalankan sebagaimana biasanya, termasuk implementasi program-program yang didukung oleh Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-S). SSS-Pundi Sumatera sebagai fasilitator wilayah TFCA-S di bagian tengah dan selatan juga mengalami keadaan yang sama. Di mana kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan mitra TFCA-S tetap harus dijalankan, sementara protokol kesehatan untuk menekan laju penularan Covid-19 tetap harus diterapkan.

Share learning atau berbagi pengalaman pembelajaran dari lapangan menjadi kegiatan yang penting dilakukan mengingat beberapa mitra TFCA-S bergerak di isu yang sama. Tapi, isu yang sama bukan berarti permasalahan yang dihadapi juga sama, kemampuan mitra dalam mengimplementasikan program pun berbeda. Peningkatan kemampuan inilah yang menjadi tujuan dari share learning. Agar kegiatan berbagi pengalaman pembelajaran tersebut bisa terlaksana tanpa aktifitas tatap muka, web base seminar (webinar) menjadi salah satu jalan alternatif yang kreatif. Pada hari Senin, 21 September 2020, faswil mengadakan webinar dengan tema “Manusia dan Satwa, Bisakah Hidup Tanpa Konflik?” Melibatkan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) yang bergerak di konservasi gajah sumatera, Program Konservasi Harimau Sumatra (PKHS) yang bergerak di bidang konservasi harimau Sumatra, dan Yapeka yang juga bergerak di isu yang sama namun dengan program yang berbeda. 3 mitra yang bekerja di 3 taman nasional yang berbeda tentu memiliki cerita masing-masing, apalagi jika kegiatan tersebut berhubungan langsung dengan masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional.

Yuliantoni, sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) pada kesempatan tersebut bercerita tentang peran kolaboratif para pihak dalam melaksanakan mitigasi konflik gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo. PKHS yang diwakili oleh Sumi Anto sebagai Menejer Program, mempresentasikan upaya preventif yang dilakukan dalam meminimalisir kontak antara satwa dan masyarakat sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Dan Agustinus Wijayanto yang merupakan Direktur/Lifehood Program Yapeka untuk wilayah Sumbar-Riau bercerita tentang upaya memberdayakan masyarakat desa penyangga agar mereka tidak mencari nafkah di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Demi menambah point of view dalam webinar tersebut faswil juga mengundang kepala BBKSDA Riau (Suharyono) dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BKSDA Bengkulu-Lampung (Hifzon Zawahiri)

Webinar “Manusia dan Satwa” diikuti oleh 284 orang peserta (sebagian besar peserta tidak bisa bergabung karena keterbatasan kuota partisipan zoom), dan belum diintegrasikan penayangannya ke Instagram atau youtube. Akan tetapi dari kegiatan webinar tersebut bisa ditarik sebuah benang merah bahwa bicara konflik antara manusia dengan satwa berarti bicara tentang memperebutkan ruang hidup. Satwa selain membutuhkan makanan juga membutuhkan ruang jelajah sebagai makhluk liar, sedangkan manuisa juga demikian: membutuhkan lahan untuk digarap dan dijadikan tempat tinggal.

Agar masalah memperebutkan ruang hidup itu terpecahkan, maka jalan tengah yang bisa diambil adalah “menghindari pertemuan yang tak diinginkan” tersebut. Caranya dengan memanfaatkan lahan garapan yang sudah ada dengan maksimal, memberdayakan masyarakat dengan segala potensinya, sehingga mereka tidak lagi mencari penghidupan ke dalam kawasan taman nasional. Jika perlu –dan memang perlu– masyarakat desa penyangga turut menjaga satwa agar mereka lestari, mengembalikan ekosistem di dalam kawasan taman nasional agar rantai makanan mereka kembali ke urutan semula. Sehingga masyarakat sekitar kawasan taman nasional sejahtera, satwa liar dengan bentang alam sebagai rumahnya juga terjaga. (GW)

SHARE:
Berita lainnya