Expo Inisiatif, Mendukung Ekonomi Kreatif Sumatera

DSC07676

Asisten III Jambi, Hamdani sedang berbincang dengan mitra Yayasan Ulayat tentang produk mereka

Jambi. 8 Desember 2016 – Sekelompok orang tampak tengah asik berdiskusi di tenda-tenda yang berisi produk hasil hutan. Asisten Setda II I Provinsi Jambi, Hamdani; Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Irwansyah Rahman; Direktur Eksekutif Yayasan Kehati, M.S. Sembiring; dan Direktur Program TFCA-Sumatera, Samedi tampak ikut berbincang diantara yang hadir.

Dalam acara yang bertajuk Expo Inisiatif TFCA-Sumatera, mitra TFCA-Sumatera, masyarakat, dan semua stakeholder bertemu. Kegiatan yang menghadirkan aneka produk mitra-mitra TFCA-Sumatera digelar bersama SSS-Pundi untuk pertama kalinya.

Dalam sambutan pembuka, Hamdani mengatakan dukungannya pada pembangunan kehutanan di Jambi khususnya pada aspek kehutanan masyarakat. Ia menyebutkan ada dua prasayarat yang harus dipenuhi, yaitu peningkatan kapasitas dan adanya akses pasar. Ia juga menyampaikan apresiasi pada TFCA-Sumatera yang mewadahi pembangunan kehutanan di Jambi. Direktur Program TFCA-Sumatera, Samedi mengatakan bahwa acara Exis 2016 memang direncanakan untuk menjadi wadah bertemunya antar stakeholder dengan mitra-mitra TFCA-Sumatera.

Pada hari pertama pameran, dilaksanakan acara Dialog Nasional dengan tema “Mengembangkan Community Enterpreneurship Untuk Mendukung Pelestarian Bentang Alam dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Hutan di Sumatera”. MS Sembiring (Direktur Eksekutif Yayasan Kehati), Masril Koto (Social Enterpreneurship), Karman MM (Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan), Bening (Asosiasi Business Development Service Indonesia), dan Mahendra Taher (Pendiri Yayasan SSS-Pundi Sumatera) yang menjadi pembicara sepakat untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat dengan kelestarian hutan melalui community entrepreneurship. Penguatan kapasitas kelompok dan pendampingan secara berkelanjutan menjadi kuncinya.

Malamnya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi warung kopi dan temu bisnis. Sambil ngobrol santai, para peserta yang hadir juga dapat mencicipi kopi yang dihasilkan dari mitra TFCA-Sumatera. Rembugan ini juga menjadi tempat untuk berbagi inspirasi tentang bisnis berbasis komunitas.

Acara Exis 2016 juga diisi oleh workshop, diskusi parallel, dan pameran produk. Ekshibisi ini menampilkan olahan hasil hutan non kayu seperti kopi, madu, kerajinan dari rotan dan bambu, minuman herbal kemasan, pupuk organik dan lain-lain. Masyarakat tak sedikit yang datang untuk melihat dan membeli kerajinan dari mitra.

Untuk memperkaya wawasan, dilaksanakan dua lokakarya yaitu “Pembelajaran dan Upaya Penyelamatan Satwa Terancam Punah” serta “Pembelajaran Upaya Membangun Community Enterpreneurship”. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi panelis konsolidasi mitra TFCA-Sumatera yang dibagi perwilayah. Masing-masing mitra menyampaikan capaian dan pembelajaran kegiatan mereka masing-masing.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan bedah buku “Saga Konservasi, Narasi Pelestarian Di Pesisir Barat Aceh”, “Rawa Tarung, Pertaruhan Di Rawa Gambut Tripa”, dan “Plan C”. Buku-buku tersebut merupakan tulisan pembelajaran dari mitra TFCA-
Sumatera yang telah melaksanakan kegiatan projeknya. Buku Rawa Tripa yang menceritakan tentang perjuangan Yayasan Ekosistem Lestari dalam mempertahankan kawasan lindung gambut Rawa Tripa. Sementera Saga Konservasi bertutur soal Yayasan Leuser Internasional yang melakukan penataan batas Rawa Singkil dan patrol gajah di Trumon, Aceh.

Banyak pembelajaran dan ilmu baru yang didapat dari acara ini. “Kami berterimakasih atas terselenggaranya acara ini. Melalui acara ini kami dapat banyak jaringan, pasar baru, dan ilmu baru” ungkap Sidiq, salah seorang peserta dari Yayasan Ukir. (yan)

IMG_0910

Produk dari Mitra PT-KEL