Hari Habitat Sedunia 2018 : Urgensi Berbagi Ruang Habitat Manusia dan Gajah Sumatra

Gajah jinak didatangkan dari PKG Minas dalam operasi penyelamatan gajah sumatera di Jambi. Sebanyak tiga ekor gajah yang terisolir dan menjadi korban fragmentasi habitat akan dipindahkan ke habitat yang lebih baik. (foto by YKSLI)

Gajah jinak didatangkan dari PKG Minas dalam operasi penyelamatan gajah sumatera di Jambi. Sebanyak tiga ekor gajah yang terisolir dan menjadi korban fragmentasi habitat akan dipindahkan ke habitat yang lebih baik. (foto by YKSLI)

Kemarin (2/10) dunia memperingati Hari Habitat Internasional. Peringatan ini ditujukan untuk merefleksikan kondisi pemukiman dunia dan hak dasar semua kalangan masyarakat untuk tempat tinggal yang memadai. Namun, semestinya konsep pembangunan nasional juga harus mempertimbangkan konservasi keanekaragaman hayati.

Sayangnya, upaya memberikan ruang habitat bagi gajah Sumatra dan satwa liar lainnya dirasa belum cukup adil. Selama ini gajah Sumatra akhirnya banyak menjadi korban. Forum Konservasi Gajah Indonesia mencatat hanya dalam jangka tiga tahun (2012 – 2016) setidaknya 152 ekor gajah mati. Bila laju kematian rata-rata gajah 50 ekor per tahun dan tidak ada upaya penyelamatan yang serius maka dalam 20 tahun Gajah Sumatra akan punah di alamnya.

Merunut dari data Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan 2007 – 2017, mamalia besar tersebut mengalami permasalahan utama seperti  fragmentasi habitat, kehilangan habitat dan menurunnya kualitas habitat. Aktifitas manusia yang berada di habitat gajah menyebabkan konflik antara gajah dan manusia menjadi tak terelakkan.

Dalam rangka menurunkan tingkat KGM dan penyelamatan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus), Yayasan Konservasi Satwa Liar Indonesia (YKSLI) dengan bantuan pendanaan dari TFCA-Sumatera melakukan operasi penyelamatan gajah Sumatra korban fragmentasi habitat di Jambi. Saat ini merupakan hari kedelapan dari target 10 hari operasi penyelamatan. Sebanyak 40-an personil gabungan dari unsur pemerintah, TNI/Polri, LSM, akademisi,  perusahaan, dan masyarakat dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Rencananya ada tiga ekor gajah Sumatra yang saat ini berada di luar lokasi habitatnya akan dipindahkan ke areal restorasi Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).

“Kondisi populasi gajah Sumatera selama 20 tahun belakang terus menurun. Harapannya, melalui upaya translokasi gajah Sumatra ini dapat menurunkan potensi konflik dan menyediakan habitat yang lebih memadai” ujar Samedi, Direktur Program TFCA-Sumatera.

Sebelumnya, pada pertengahan 2018 dua gajah jantan yang berada di Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sunmay, Kabupaten Tebo, telah keluar dari habitatnya yakni kelompok gajah Bukit Tigapuluh. Sebenarnya, hal tersebut merupakan sifat alami gajah jantan muda guna mencari habitat baru dan gajah betina yang berbeda dari kelompok asalnya. Sifat alami gajah jantan muda berdampak positif bagi kualitas genetika populasi karena menghindari terjadinya perkawinan sekerabat (in breeding).  Sebaliknya, dengan kondisi habitat gajah yang terfragmentasi dan tidak terhubung satu sama lain, perkawinan sekerabat juga menjadi ancaman tersendiri bagi upaya konservasi gajah sumatera.

Namun, dalam pergerakannya gajah jantan muda tersebut justru menimbulkan konflik dengan masyarakat. Ini disebabkan karena seluruh habitat gajah ekosistem Bukit Tigapuluh telah dikelilingi perkebunan yang dikelola oleh masyarakat dan perusahaan yang kebanyakan ditanami pohon karet dan kelapa sawit. Kedua jenis tanaman itu  termasuk jenis tanaman yang disukai gajah sehingga warga merasa dirugikan akan keberadaan gajah jantan tersebut.

Sementara gajah Sumatera lainnya, yaitu Karina, seekor gajah betina dewasa yang berada di Pintas Tuo, Kecamatan Muara Tabir, Kabupaten Tebo, merupakan gajah satu-satunya yang masih hidup di kelompoknya. Ia berada di wilayah yang didominasi semak-semak dan hidup terisolir terkepung areal perkebunan. Karina juga berada dekat dengan permukiman masyarakat.

Karina adalah gajah pertama yang akan dipindahkan ke areal restorasi Hutan Harapan. Menurut Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa penyelamatan terhadap gajah Karina memiliki dua aspek penting yakni aspek penyelamatan dan aspek pembinaan populasi. “Aspek perlindungan, gajah ini (Karina) diselamatkan dari kepunahan karena dia hidup sendiri, sedangkan gajah termasuk hewan yang hidup berkelompok. Dia diselamatkan untuk masuk ke kelompok barunya” ujar dia. Dari aspek pembinaan populasi, imbuh Indra, pemindahan Karina akan memberikan keragaman geneik. Kelompok gajah di PT REKI masih memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain. Sehingga kehadiran Karina akan memberikan fresh blood bagi kelompok gajah tersebut. Diharapkan Karina dapat berkembang biak sehingga meningkatkan populasi gajah di alam. Direktur KKH menyatakan bahwa tujuan perlindungan gajah ini penting untuk menyelamatk gajah doomed (terisolir dan terpisah dari kelompoknya) juga melaksanakan pembinaan populasi dengan membentuk kantung gajah yang baru diluar kawasan konservasi.

Pemindahan gajah dan pemasangan GPS Collar merupakan bagian dari upaya pemerintah bersama mitra dalam melakukan perlindungan gajah sumatera di Provinsi Jambi. Dengan kondisi 85% gajah sumatera hidup di luar kawasan konservasi dan semakin banyaknya konflik gajah-manusia (KGM) maka diperlukan upaya kolaborasi multipihak dalam melakukan pengelolaan habitat dan populasi di tingkat lanskap.

TFCA-Sumatera sendiri sebagai salah satu lembaga program pendanaan konservasi di Sumatera bersama para mitra telah berupaya mendorong perlindungan gajah Sumatera di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sejak 2010, TFCA-Sumatera telah memberikan bantuan untuk mendukung Patroli Habitat Gajah, Perawatan Gajah Jinak di 6 Pusat Konservasi Gajah di Sumatera, patroli perlindungan dan resolusi konflik gajah manusia, pembangunan barrier gajah, dan pembangunan Conservation Response Unit (CRU) Trumon. (yudha AN)