...

22 Oktober 2020

Forest Fire Responsible for Habitat Loss in Way Kambas National Park

PORTALLNEWS.ID – Fasilitator wilayah Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA) Sumatera Tengah Selatan, Damsir menyatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi penyebab utama dari berkurangnya habitat di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Provinsi Lampung.

“Kalau kita amati persoalan yang penting, ancaman serius di TNWK di saat ini adalah kebakaran hutan dan lahan. Karhutla ini berakibat terganggunya juga ruang hidup satwa kunci di sana,” ujarnya dalam temu media , Senin (21/12/2020)

Menurut Damsir, TNWK dengan luas lebih dari 125 ribu hektar di Kabupaten Lampung Tengah, dan Lampung Timur saat ini mengalami masalah berkurangnya habitat dengan penyebab utama Karhutla yang terjadi hampir setiap tahun semenjak 1980an.

Bahkan, lanjut Damsir, kebakaran hebat pernah terjadi di 1997 menghabiskan hampir 70 persen wilayah TNWK. Pihak TNWK melakukan kegiatan reforestasi sejak 2010 di empat lokasi kawasan, yaitu Mataran Bungur, Bambangan, Sandat, dan Susukan Baru.

Aktifitas perlindungan dari karhutla melibatkan masyarat di sekitar melalui masyarakat mitra Polhut. Masyarakat melakukan penanaman tumbuhan pionir dan tumbuhan tahan api, pemeliharaan tanaman dan pengurangan pertumbuhan alang-alang, serta pelibatan dan pelatihan masyarakat untuk bekerja di program reforestasi.

“Sejak 2010, ada beberapa areal reforestasi yang sudah dilakukan, di Bungur SPTN II seluas kurang lebih 100 hektar dengan penanaman tumbuhan pionir, serta pakan gajah. Sekat kanal jua dilakukan di Bambangan, Sandat dan Susukan Baru seuas kurang lebih 50 hektar,” tutur Damsir.

Damsir mengatakan, beberapa upaya mitra yang didanai oleh TFCA tidak hanya fokus pada ancaman karhutla, tapi juga ancaman lainnya seperti perburuan, perambahan,dan pembalakan.

“Ada tim patroli ya dari teman-teman mitra, tidak hanya soal karhutla tapi juga pengamanan kawasan dan boidiversity yang ada di dalamnya. Ada juga dari Masyarakat Mitra Polhut , mereka para mitra ini berkegiatan dalam kawasan ada yang per 15 hari, bervariasi tergantung kebutuhannya,” tutur Damsir.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sinergitas dukungan para pihak dalam pengelolaan TNWK juga dilakukan dalam mekanisme pembentukan forum rembuk desa penyangga yang melibatkan 24 desa di Kabupaten Lampung Timur yang akan mulai berjalan di 2021.

Populasi Badak Terancam Punah

Damsir memaparkan, TNWK memiliki satwa kunci yang khas diantaranya Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), Tapir (Tapirus indicus) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus).

Namun, saat ini populasi Badak Sumatera dinyatakan termasuk dalam kategori konservasi terancam punah (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) atau Unit Internasional untuk Konservasi Alam.

Damsir mengatakan, hasil analisis berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan lapangan yang dilakukan oleh ALeRT, RPU-YABI dan Patroli Resort lingkup Balai TNWK, estimasi populasi badak sumatera di TNWK tahun 2019 terdapat minimum 18 dan maksimum 20 individu.

“Data ini berdasarkan temuan ukuran tapak, jarak titik temuan dan didukung data kamera trap pada tahun 2019, diluar 7 ekor badak sumatera berada di pusat penangkaran badak sumatera atau Suaka Rhino Sumatera TNWK,” ujar Damsir.

Aksi Penyelamatan Badak

Sementara itu, Direktur Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) Way Kambas, Arif Rubianto menyebutkan Badak Sumatera paling sulit untuk diidentifikasi, karena tingkat perjumpaan yang rendah dan sampel terbatas.

“Badak ini sangat sensitif dan kita butuh pembanding dengan yang ada di SRS, ternyata karakter morfologi, sifat dan kebiasaannya berbeda tiap individu. Memang perludengan cara khusus, baik melalui kamera trap, dengan software semacam itu afisial intiligen yang menganalisa data-data temuan di lapangan,” kata Arif.

Identifikasi dari cuplikan kamera trap tidak akan dapat dengan mudah untuk mengidentifikasi badak sumatera, karena jika dari cula, bisa saja patah sehingga mengalami pengecilan. Dari liputan kulit juga tidak ada tanda-tanda khusus, sementara ditutupi dengan bekas kubangan sehingga jika ada bekas luka atau tanda lain di kulit tidak akan dapat terlihat jelas.

“Butuh puluhan clip dengan posisi foto yang tepat untuk identifikasinya, ada juga melalui DNA. Akan tetapi sampel yang diperoleh harus fresh. Misalnya feses harus kurang dari satu hari, urin juga harus kurang dari satu jam, rambut butuh ketelitian tinggi agar tidak tercampur sampah, darah dari bekas luka juga masih jaranglah,” lanjutnya.

Kesulitan identifikasi individu ini juga disebut Arif menjadi salah satu tantangan dalam melakukan Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak.

Kementerian LHK dalam hal ini Ditjen KSDAE telah membuat rencana aksi darurat melalui Surat Keputusan Dirjen KSDAE Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018 Tanggal 6 Desember 2018 tentang Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak Sumatera tahun 2018 – 2021.

Rencana aksi penyelamatan badak sumatera di TNWK mencakup upaya penangkapan individu badak sumatera dalam kondisi produktif, dan menggabungkan badak-badak tangkapan ke dalam sarana Conservation breeding atau SRS.

Tujuannya adalah untuk mempercepat pengembangbiakan badak di SRS Way Kambas serta menghindari perkawinan sedarah (Inbreeding), perkawinan ini dapat menyebabkan hilangnya keragaman genetika khususnya badak sumatera.

“RAD tetap berjalan, sesuai rencana, tapi butuh data awal individu harus jelas. Jangan sampai niatnya menyelamatkan tapi fatal bagi badaknya. Karena harus jelas individu mana yang harus ditargetkan, diselamatkan. Persoalan timnya, pelatihan peralatan dan lainnya ini juga harus diperhatikan,” jelas Arif.

RAD ini juga mendapatkan dukungan dari KEHATI melalui pendanaan TFCA Sumatera dan TFCA Kalimantan. Saat ini TFCA Sumatera khususnya wilayah tengah -selatan bekerja dengan mitra di delapan taman nasional.

Diantaranya TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tigapuluh, TN Tesso Nilo, TN Berbak Sembilang, TN Bukit Barisan Selatan, TN siberut, TN Tesso Nilo, dan Semenanjung Kampar.

Sumber: Portailnews.id

SHARE:
Berita lainnya