Warning: mysql_query(): Unable to save result set in /home/tfcasum1/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1878
Keragaman Spesies Ekosistem Berbak - TFCA Sumatera

Keragaman Spesies Ekosistem Berbak

Buaya muara berbak

Buaya Muara (Crocodilus porosus) – http://wikimapia.org

Oleh : Konsorsium Wahana Bumi Hijau

Bentang Alam Ekosistem Berbak (BAEB) merupakan bagian bentang aluvial alami yang luas di Sumatera bagian Timur dengan ketinggian tempat berkisar 0 sampai 20 meter diatas permukaan laut. Daerah ini seluruhnya datar yang dibelah oleh sejumlah tanggul-miring dan sungai berkelok-kelok yang mengalir ke arah timur laut menuju pantai. Sepanjang pantai dan bagian hilir sungai ditemukan punggungan bukit pantai yang luas dan lumpur pasang surut.

Eksistem Berbak diperkirakan mengandung 60.000 hektar hutan rawa air tawar dan 158.000 hektar hutan rawa gambut yang relatif tak terganggu serta 1.500 hektar hutan bakau. Hutan rawa gambut ditemukan dengan jarak 3 kilometer dari pantai dan sungai. Hutan bakau terbentuk pada hutan rawa air tawar disepanjang sungai dan biasanya digenangi air sepanjang tahun.

Kisaran pasang surut maksimum pesisir adalah 2 sampai 2,5 meter menurun menjadi 1 meter di kawasan hulu. Sungai-sungai mempunyai kedalaman sampai 20 meter dan mengandung air gambut yang asam. Pada musim kemarau, air payau menembus hingga 10 kilometer ke arah pedalaman TN. Berbak.

BAEB merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai atau Cekungan Sungai (river basin) Air Hitam Laut. Sungai ini merupakan sungai bergambut yang mengalir dari dari Barat Daya ke wilayah Timur Laut ke Selatan Laut Cina. Hulu Sungai Air Hitam terletak disebelah barat daya, yaitu di kawasan Hutan Produksi Terbatas yang dikelola PT. Putra Duta Indahwood dan Hutan Lindung Gambut Air Hitam Laut.

Rawa gambut di BAEB ditandai dengan pola drainase sungai dengan limpasan air yang mengalir melalui mikro topografi dan cekungan sungai. Tingkat penurunan permukaan air tidak lebih dari 100 cm dan tanah gambutnya 85% berisikan kandungan air.

Berdasarkan pemodelan dengan menggunakan analisis SIMGRO (SIMulation of GROundwater flow and surface water levels) atau simulasi dengan menggabungkan kondisi aliran air tanah dan permukaan tingkat ketinggian air, maka dihasilkan tiga kondisi realistik ancaman masa depan dari DAS Air Hitam Laut yang meliputi juga Kawasan TN. Berbak, yaitu perluasan perkebunan kelapa sawit di daerah hulu, perluasan kawasan pertanian di daerah hilir serta kerusakan hutan gambut akan terus berlangsung akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

TN. Berbak yang merupakan bagian dari BAEB merupakan perwakilan kawasan hutan rawa gambut terluas dan relatif utuh di Indonesia dan Asia Tenggara yang telah dilindungi undang-undang. Secara biogeografis digolongkan dalam bioregion Paparan Sunda Besar (Sundaland Bioregion).

Kawasan ini mempunyai nilai khusus untuk memelihara keanekaragaman genetis dan ekologis dataran pesisir Sumatera. Disamping itu TN. Berbak merupakan “gudang penyimpan gen” (gene pool) flora dan fauna yang dimanfaatkan untuk bahan baku farmakologis, pangan dan budidaya tumbuhan hias. Kawasan ini terdapat 44 jenis reptilia, 22 jenis moluska, 95 jenis ikan, 53 jenis mamalia diantaranya langka dan terancam punah, seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Tapir Asia (Tapirus indicus), Hystrix brachyuran, Lutra sumatrana, jenis reptil Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii), Buaya muara (Crocodylus porosus), Citra indica , jenis ikan Balantiocheilos melanopterus.
Di TN. Berbak dapat ditemukan sekitar 50 jenis satwa liar yang telah digolongkan dalam CITES Appendiks I dan II. Sebanyak 56 jenis burung, 7 jenis mamalia dan 1 jenis ikan dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1999.

Disamping itu dapat ditemukan lebih dari 345 jenis burung meliputi 45 famili diantaranya 22 jenis adalah jenis burung migran (migratory bird). Kawasan ini telah ditetapkan salah satu Kawasan IBA (Important Bird Area) oleh Birdlife International karena mengandung jenis-jenis burung yang terancam punah secara global berdasarkan IUCN Red List, seperti Melanoperdix niger, Cairina scutulata, Mycteria cinerea, Ciconia stormi, Leptoptilos javanicus, Tringa guttifer, Columba argentina, Alcedo euryzona.

Adanya nilai konservasi dengan kepentingan internasional menjadikan Berbak sebagai lokasi ekosistem lahan basah tertua di Indonesia yang terdaftar sejak tahun 1991 pada Konvensi Ramsar.
P