Komitmen Indonesia untuk Konservasi Badak Sumatera

Badak Ratu dan anaknya, Andatu berada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Way Kambas, Lampung

Badak Ratu dan anaknya, Andatu berada di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Way Kambas, Lampung

Dunia memperingati Hari Badak yang jatuh pada tanggal 22 September 2019. Perlu diketahui bahwa saat ini, ada lima jenis badak tersisa di seluruh dunia. Dua dari lima jenis tersebut berada di Indonesia. Pertama adalah badak Jawa (Rhinceros sondaicus) yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Kedua adalah badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Taman Nasional Bakit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas, Lampung serta Kalimantan Timur. Sayangnya, kondisi kedua badak tersebut juga dalam resiko kepunahan/kritis (Critical Endangered) selangkah lagi menuju punah di alam liarnya. Meski sama-sama terancama, badak Sumatera memiliki ancaman yang paling tinggi.

Pertama, kehilangan dan fragmentasi habitat karena laju pembukaan lahan yang tinggi baik secara legal maupun illegal. Kondisi ini menyebabkan habitat badak kian tergerus dan terkapling-kapling habitatnya hingga berdampak pada terisolirnya mamalia tersebut. Kedua, karakter alami badak Sumatera yang hidup soliter (menyendiri) sehingga menjadikannya semakin sulit bereproduksi dan berkembangbiak. Belum lagi masa kawin badak betina yang singkat membuat perkembangbiakannya semakin susah. Kondisi habitat yang tersekat-sekat juga membuat potensi perkawinan sedarah semakin tinggi. Perkawinan sedarah akan mengakibatkan kualitas genetika badak menurun. Selain itu, rendahnya laju perkembangbiakan badak Sumatera akan beresiko memunculkan gangguan fungsi reproduksi dan rentan terjadinya abnormalitas pada organ reproduksi (patologi organ reproduksi). Kondisi ini mengakibatkan badak tak lagi dapat bereproduksi secara alami. Ketiga, perburuan badak untuk diambil culanya juga kian meningkat.

“Kondisi populasi Badak Indonesia saat ini diketahui para ahli kurang dari 100 ekor dan kondisi ini sama seperti kondisi yang dihadapi Malaysia 30 tahun lalu. Kenyataannya saat ini badak Sumatera yang ada di Malaysia sudah dinyatakan punah” ujar Samedi, Direktur Program TFCA-Sumatera. Sebelumnya Badak Sumatera di Malaysia telah dinyatakan punah di alam liarnya sejak tahun 2015.

Tak ingin bernasib sama, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk mendukung dilaksanakannya Rencana Aksi Darurat (RAD) Penyelamatan Badak Sumatera. Melalui skema pengalihan utang untuk lingkungan, mereka sepakat untuk memberikan sebagian dukungan pendanaan pada program-program konservasi badak Sumatera. Yayasan KEHATI sebagai Administrator TFCA-Sumatera ditunjuk untuk mengelola pendanaan tersebut.

Pada tahap pertama, TFCA-Sumatera telah mendukung pendanaan untuk survey okupansi, patroli perlindungan habitat badak Sumatera, restorasi pakan badak, dan fasilitasi dokumen RAD Penyelamatan Badak Sumatera 2018-2021. Kegiatan tersebut telah selesai dilaksankan pada tahun 2019. Tahap kedua, TFCA-Sumatera berkomitmen untuk memberikan dana kurang lebih Rp 100 Milyar rupiah untuk melaksanakan RAD tersebut.

Ada 2 kegiatan utama dari konservasi badak Sumatera tahap kedua ini. Pertama, terhadap populasi yang kurang dari 15 individu dan dianggap tidak mampu bereproduksi dalam jangka panjang (viable) per kantong populasi dan populasi yang terisolasi, dilakukan penyelamatan individu ke suaka badak Sumatera untuk dibantu perkembangbiakannya di habitat semi alami. Kedua terhadap populasi dengan jumlah lebih dari 15 individu, maka perlu dilakukan proteksi intensif dan monitoring populasi melalui patroli dan penjagaan yang ketat dari perburuan dan gangguan lain. Kegiatan konservasi badak Sumatera ini mencakup 3 wilayah bentang alam yaitu Taman Nasional Gunung Leuser – Aceh, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Taman Nasional Way Kambas – Lampung yang melibatkan 11 LSM lokal yang akan bekerja di lapangan. (YAN)