Menghijaukan Pesisir Timur Kampar

Konsorsium Jikalahari menetapkan perbaikan bentang alam, seperti restorasi, perlindungan, pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam terbaik sebagai salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam kerangka kerjasama program yang didanai oleh TFCA-Sumatera.

Ada 3 kegiatan utama dalam upaya Restorasi kawasan mangrove, yakni :

1. Identifikasi dan pemetaan Kawasan Restorasi Mangrove
Identifikasi dan Pemetaan Kawasan Restorasi dilakukan pada April 2011 dengan melalui 2 jalur, yakni jalur transportasi air dan darat.  Pertemuan dengan masyarakat pasca selesainya pemetaan lapangan dilakukan guna menambah informasi dan sosialiasi terkait dengan identifikasi dan pemetaan kawasan yang berada di wilayah mereka.  Dari pemetaan yang dilakukan, diketahui potensi mangrove seluas 12.000 hectare dan kebutuhan bibit bakau sebanyak 30.000 batang.

2. Penyiapan Kelompok Mangrove
Pembentukan kelompok bertujuan memastikan ada kelompok masyarakat yang akan mengawal perawatan, penanaman, dan pemeliharaan dari mangrove tersebut. Pada Juli 2011, telah dibentuk kelompok Pemerhati Mangrove Desa Sungai Rawa dengan ketua nya Bapak Junaidi. Anggota kelompok berjumlah 15 orang.

3. Penyiapan bibit, penanaman dan pemeliharaan
Pada bulan September sampai November 2011 dimulai pelaksanaan budidaya/penyiapan bibit mangrove yang akan ditanam di lahan restorasi. Kegiatan diawali dengan pelatihan pemilihan bibit dan pemeliharaan bibit yang difasilitasi oleh tenaga penyuluh lapangan yang ada di  desa.

Pembibitan dilakukan di tiga lokasi dengan tiga sub koordinator yaitu koordinator pertama bapak Rusli dengan lokasi penanaman dekat jambat hitam, koordinator kedua bapak Azwar dengan lokasi penanaman dekat dermaga, dan koordinator ketiga bapak Bukharil dengan lokasi penanaman dekat kebun sagu tidak jauh dari lokasi kedua.

Pembibitan di bagi tiga tahap yaitu mencari bibit yang lebih dominan dikerjakan oleh anggota yang lebih sering melaut, memilih, menyemai, dan membuat tempat  serta menyiram dan merawat bibit sehingga layak tanam.  Pembibitan tanaman mangrove lebih banyak ke tanaman api-api dikarenakan tanaman api-api yang pertama menahan ombak laut, dengan rincian 70% api-api (21.000 bibit) dan 30% bakau (9.000 bibit).  Tempat pembibitan dibuat  dengan ukuran 2 x 2 meter yang dapat menampung 2500 bibit dan ditutupi dengan daun nipah.

Pencarian buah mangrove untuk pembibitan dilakukan pada waktu surut dengan buah bakau yang sudah jatuh atau bisa diambil dari batang dengan ciri-ciri buah bakau kelihatan kecoklatan dan cangkang atas sudah mulai terangkat.  Tanah lumpur digunakan sebagi media tanam  yang dimasukan kedalam polibek setengah kilo atau bisa diganti dengan plastik gula.

Setelah adanya pembekalan terhadap kelompok untuk melakukan pembibitan mangrove maka tahapan berikutnya adalah dimulainya kegiatan pembibitan dan persemaian.

Untuk pembibitan sendiri kelompok membagi sub kelompok menjadi tiga untuk setiap lokasi pembibitan, para nelayan mencari bibit buah mangrove, sedangkan ibu-ibu daerah pesisir menyiapkan media pembibitan (memasukan tanah dan bibit ke dalam polibek) dan persemaian sedangkan sisa anggota membuat tempat lokasi pembibitan dekat terjadinya pasang surut.

Perawatan pembibitan dilaksanakan 2 atau 3 hari sekali dengan membersihkan dan menganti bibit yang rusak. Dalam beberapa bulan,  bibit akan tumbuh dan sudah mempunyai daun, untuk bakau sudah mencapai tinggi ±25 cm dengan jumlah daun 6 – 8 sedangkan untuk api-api mengalami hambatan karena diserang hama ulat ketika buah mau tumbuh dan hama ketam (sejenis kepiting) yang memetong daun api-api ketika tinggi 2 – 5 cm. Sehingga dalam hal ini api-api hanya 60% yang bisa hidup sedangkan sisanya kelompok terus menggulang tahap persemaian.

Dalam perencanaan semula, jumlah bibit yang direncanakan untuk ditanam berjumlah 30.000 batang. Namun ternyata tidak semua bibit yang dapat tumbuh dengan baik sehingga secara berkala kelompok melakukan pemantauan dan penggantian terhadap bibit yang gagal. Berdasarkan diskusi yang dilakukan dalam evalusi pembibitan yang berjalan maka untuk mengganti bibit yang gagal maka disepakati menggantinya dengan jenis bibit yang lain seperti sesup, nyirih, ketapang dan lainnya yang merupakan juga tanaman dalam ekosistem mangrove. Hal ini juga untuk mengantisipasi dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan ke depan agar kegiatan restorasi ini dapat berjalan dengan baik.

Menariknya dari kegiatan restorasi dengan menanam mangrove di Desa Sungai Rawa ini, juga diikuti oleh desa tetangga yakni Desa Penyengat dimana melalui bantuan PT RAPP masyarakat desa tersebut juga melakukan penanaman sebagaimana yang dilakukan di Desa Sungai Rawa dengan jumlah bibit yang jauh lebih banyak lagi.