Saluran Air Bersih untuk Masyarakat Deleng Sekinel

DSC07992 (1)

sambutan dari penari cilik

Serombongan penari cilik dari Desa Deleng Sekinel, Linge Isak dalam balutan pakaian daerah gayo tampak luwes melenggokkan tubuh dan mengibas tangannya dalam suatu tarian selamat datang. Penghormatan ini ditujukan untuk menyambut para tamu yang datang ke desa mereka dalam rangka peresmian instalasi Sarana Air Bersih (SAB) yang baru saja dibangun.

Bantuan ini merupakan bagian dari dukungan Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) bagi pelestarian kawasan Taman Buru Linge Isak dan sekitarnya. Melalui mitranya, Penyangga Tengah Kawasan Ekosistem Leuser (PTKEL), lebih dari 2 km pipa paralon dibentangkan dari dalam kawasan hutan baru untuk masuk ke rumah 43 warga di Desa Deleng Sekinel. Selain untuk warga, saluran itu juga disediakan untuk sebuah sekolah dan sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Mesjid Baiturrahman saat ini sedang dalam tahap renovasi, menggantikan masjid lama di lokasi yang sama yang berukuran lebih kecil.

Masyarakat menyambut gembira adanya air yang bisa dihadirkan langsung ke rumah mereka. Sebelumnya mereka harus mengambil air ke sungai yang airnya tidak selalu jernih. “Kadang apabila sungai meluap karena banjir atau hujan di hulu, kami tidak bisa mengambil air. Harus menunggu air tenang dan bening dulu agar bisa dimanfaatkan” ucap Pak Epi, kepala dusun Deleng Sekinel.

DSC08041

Direktur Eksekutif Yayasan Kehati, M.S Sembiring mengesahkan pembangunan saluran air bersih

Bagi TFCA-Sumatera, peresmian bantuan SAB yang diadakan di awal tahun 2017 ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, TFCA-Sumatera telah mendukung pembangunan instalasi serupa sepanjang 2 km di Desa Reje Payung, sekitar 3 km dari desa Deleng Sekinel. Modalnya dari hasil kerjasama dengan proyek Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Hingga kini sarana tersebut masih berfungsi dengan baik.
Direktur TFCA-Sumatera, Samedi PhD mengungkapkan bahwa bantuan saluran air ini merupakan wujud menghadirkan manfaat hutan secara langsung bagi masyarakat. “Konservasi akan berkelanjutan bila masyarakat yang hidup sekitar hutan benar-benar merasakan manfaat dari upaya menjaga kelestarian alam” ujarnya. Untuk menjaga keberadaan pipa, masyarakat bergotong royong dengan cara merawatnya secara rutin. Tengah didiskusikan pula adanya iuran rutin untuk menjaga saluran tersebut.

Masyarakat diharapkan terus secara aktif menjaga kelestarian sumberdaya air yang terletak di tengah kawasan Hutan buru Linge Isak, suatu kawasan konservasi seluas 80,000 ha ini. Keberadaan kawasan yang merupakan hulu Danau Laut Tawar ini harus dipertahankan untuk menjamin ketersediaan air bagi tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) besar, diantaranya DAS Krueng Jambo Aye, DAS Krueng Peusangan dan DAS Simpang Kiri/Gelombang.(as)