...

Batang Toru

LUAS

168.658 hektarDidalamnya termasuk:

  • Hutan Lindung Sibolga (1.875 Ha)
  • Cagar Alam Sibual Bual (5.000 Ha)
  • Cagar Alam Dolok Sipirok (6.970 Ha)

Cakupan hutan Batang Toru meliputi Blok Hutan Batang Toru Barat dan Blok Hutan Sarulla Timur Provinsi Sumatra Utara, sebelah Selatan Danau Toba. Total habitat alami yang ada meliputi kira-kira 150.000 hektar.



SEJARAH


TIPE EKOSISTEM

Kawasan hutan alam Batang Toru termasuk tipe hutan pegunungan rendah, hutan gambut pada ketinggian 900 – 1000 mdpl, hutan batu kapur, hutan berlumut (seperti di pegunungan tinggi), dan juga bias ditemukan beberapa belang (rawa) di ketinggian 800 mdpl. Tipe ekosistem mulai dari hutan dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan ini merupakan habitat yang potensial bagi orang utan Sumatera (Pongo abelii).Hutan hujan primer mendominasi tutupan vegetasi, yang mengakar di lereng bukit curam dengan kemiringan lebih dari 60 persen. Cakupan hutan Batang Toru sedikitnya memiliki enam tipe habitat utama, yaitu hutan montana, hutan lumut (di atas 620 meter di atas permukaan laut), hutan lembab lereng bukit (area dominan antara 200- 600 meter di atas permukaan laut), hutan dataran rendah, karang dan lereng, hutan sekunder, dan hutan di tepi sungai/hutan riparian. Jenis habitat yang berbeda ini menciptakan suatu habitat yang cocok untuk populasi orangutan dengan menyediakan kebutuhan utama mereka, seperti sumberdaya makanan, lokasi bersarang, ruang untuk pergerakan musiman dan arboreal, seperti halnya hubungan sosial orangutan dan perlindungan dari pemangsa mereka.

FLORA

Secara keseluruhan, komposisi pohon di kawasan hutan Batang Toru lebih banyak ditumbuhi oleh suku pohon Sapotaceae, Fagaceae, Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Anacardiaceae, Casuarinaceae, Podocarpaceae, Lauraceae, Euphorbiaceae dan Theaceae. Jenis-jenis pohon tersebut tumbuh tinggi hingga 60 m.Data awal dari cakupan hutan Batang Toru menyatakan bahwa Batang Toru mengandung sebagian dari keanekaragaman tumbuhan vaskuler tingkat tinggi, dengan 685 jenis berbeda yang tergolong dalam 85 suku. Dari jumlah total vegetasi ini, 138 jenis adalah sumber makanan orangutan Sumatera dan 9 jenis tumbuhan merupakan jenis baru yaitu Wrightia sp. Nov.; Arthrophyllum sp. Nov., aff. Papyraceum Philipson; Bauhinia sp. Nov;, Aporasa sp. Nov., aff. confusa Gage atau aff. Dioica (Roxb.) Muell. Arg.; Claoxylon sp. Nov., aff. WinkleriiPax & Hoffm, Glochidion sp., aff. Fuscum (Muell. Arg.) Airy Shaw; Mallotus sp. Nov., aff. Laevigatus (Muell. Arg.) Airy Shaw; Rhodamnia sp. Nov. ined. aff. Argentea Benth; Coptosapelta sp. Nov. aff. Janowskii Val.

Disamping itu, ditemukan delapan jenis secara global terancam punah, 3 jenis endemik untuk Sumatera, 4 jenis dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, 2 jenis tumbuhan endemik dan langka (bunga raksasa Amorphophalus baccari dan Amorphophalus gigas), tumbuhan langka Rafflesia gadutensis Meijer, Becc (bunga yang paling besar di dunia), dan 3 jenis tumbuhan kantong semar yang terancam bahaya kepunahan (Nepenthes sumatrana ( Miq.), Nephentes eustachya dan Nephentes albomarginata) (Perbatakusuma et al. 2006).

Ditemukan juga 2 jenis pohon endemic yaitu Blumeopsis flava Gagnep dari suku Asteraceae danPentaphragma bartlettii Merrill dari suku Pentaphragmateaceae; 2 jenis pohon dari suku Dipterocarpaceae masuk dalam kategori Critically Endangered (kritis) yaitu Hopea mengarawan Miquel dan Shorea acuminateDyer. Ditemukan juga 2 jenis (suku Dipterocarpaceae) dalam kategori Endangered (genting) yaitu Shorea parvifolia Dyer dan Shorea platyclados v. Sloot. ex Endert.

Penemuan jenis-jenis pohon seperti Podocarpus imbricatus dan Quercus sp. Yang cukup tinggi di kawasan hutan Batang Toru merupakan salah satu cirri yang menunjukkan bahwa hutan tersebut merupakan hutan peralihan antara hutan dataran rendah sampai pegunungan.

Hasil analisis pohon pakan oleh Simorangkir (2009), diketahui ada beberapa jenis yang dimanfaatkan orang utan Sumatera sebagai sumber pakan, misalnya jenis pohon Maducha sp. dan Payena acuminate(Sapotaceae) di hutan dataran rendah; Castanopsis sp. dan Lithocarpus conocarpa (Fagaceae) di hutan campuran; Litsea firma (Lauraceae) dan Podocarpus imbricatus (Podocarpaceae) di hutan dataran tinggi;Ganua motleyana (Sapotaceae) dan Garcinia bancana (Clusiaceae) di hutan dataran tinggi berlumut. Sebagian jenis pohon juga dimanfaatkan orangutan untuk bersarang seperti Maducha sp. dan Shorea sp.(Dipterocarpaceae) di hutan dataran rendah; Castanopsis sp., Lithocarpus conocarpa, Quercus sp.(Fagaceae) dan Syzygium sp. (Myrtaceae) di hutan dataran tinggi; Ganua motleyana dan Syzygium sp. di hutan dataran tinggi berlumut.

FAUNA

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CI/Conservation International dan institusi lainnya tahun 2006 mengungkapkan bahwa Cakupan hutan Batang Toru dan areal Batang Gadis adalah rumah bagi suatu variasi yang kaya dari spesies-spesies Sumatran – terutama sekali binatang menyusui, burung-burung dan tumbuhan – yang saat ini kondisinya terancam. 67 Jenis binatang menyusui, 287 jenis burung dan 110 herpetofauna telah teridentifikasi di area ini.Dari total jumlah binatang menyusui, duapuluh jenis diantaranya dilindungi di bawah hukum Indonesia dan duabelas terancam punah menurut kategori IUCN dan 14 jenis masuk dalam kategori CITES.

Jenis-jenis satwa liar yang terancam bahaya kepunahan dan dilindungi, diantaranya adalah Orangutan Sumatra (Pongo Abelii), Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), serow (Capricornis sumatrensis), Tapir (Tapirus indicus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), loris (Nycticebus coucang), Kucing Keemasan (Pardofelis marmomata), Kukang (Nycticebus coucang), kambing hutan Sumatera (Naemorhedus sumatrensis), rusa sambar (Cervus unicolor), simpai (Presbytis melalophos), owa (Hylobates agilis), siamang (Symphalangus syndactilus), lutung (Trachypithecus cristatus), kijang (Muntiacus muntjac), jenis rangkong (Buceros rhinocerosB. bicornis, Rhinoplax vigil, Rhyticeros comatus) dan jenis elang (Ictinaetus malayensis, Sphilornis cheela, Accipiter virgatus).

Dari total jumlah burung, 51 jenis dilindungi di bawah hukum Indonesia dan 61 terancam punah secara global dan masuk kedalam kategori IUCN seperti Sunda Blue Flycatcher (Cyornis caerulatus), elang/Hawk-Eagle Wallace’s (Spizaetus nanus), Black-Crowned (Pitta Venusta) serta 8 jenis masuk dalam daftar CITES. Disamping itu dari jenis burung tersebut juga teridentifikasi 21 jenis burung migrant, 8 jenis endemic dan 4 jenis berkontribusi dalam pembentukan kawasan EBA (Endemic Bird Area) (Perbatakusuma et al. 2007)

Pada jenis herpetofauna, teridentifikasi 4 jenis bersifat endemik, 5 jenis terancam punah secara global dan 7 jenis terdaftar dalam kategori CITES.

ANCAMAN

Pembukaan lahan. Di kawasan hutan sekitar Desa Uluala, Lobu Singkam, Teluk Nauli dan sebagian Lobu Pining ancaman kerusakan habitat sangat cepat karena masyarakat pendatang sangat agresif melakukan pembukaan lahan untuk lading dan perkebunan karet serta kopi. Invasi manusia kedalam habitat alami orangutan dapat mempengaruhi kepadatannya. Aktivitas manusia dengan pembukaan hutan menjadi perkebunan dan ladang menyebabkan orangutan dan satwa lainnya bergerak keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan yang lebih baik.

Pertambangan

Aktivitas perusahaan tambang PT. Agincourt Oxiana tumpang tindih dengan habitat orangutan. Aktivitas kedua perusahaan ini dianggap dapat mengurangi luasan habitat orangutan di Ekosistem batang Toru.

Pembalakan kayu dan pembukaan jalan

Aktivitas perusahaan HPH Teluk Nauli tumpang tindih dengan habitat orangutan. Pembukaan jalan menyebabkan fragmentasi habitat yang pada akhirnya menyebabkan isolasi pada sub-populasi orang utan misalnya dan kompetisi dalam habitat tidak dapat dihindari. Akibat fragmentasi habitat, kebutuhan pakan tidak terpenuhi dengan baik dan menyebabkan kualitas perkembangan spesies akan mengalami penurunan. Isolasi habitat akibat fragmentasi juga memacu kepunahan lokal dan terbentuknya metapopulasi. Sempitnya daerah jelajah dan isolasi populasi akan menyebabkan berkurangnya ukuran populasi dan kemampuan untuk bertahan hidup.

Penguasaan tanah

Ada beberapa tantangan atas kondisi penguasaan tanah di kawasan hutan Batang Toru pada saat ini. Pertama, adanya tumpang tindih tanah penggunaan masyarakat dengan kawasan hutan seluas 32.573 ha. Diperkirakan masih setengah saja tanah masyarakat terdaftar di BPN, tercatat 17.391 ha tanah masyarakat terdaftar sebagai tanah masyarakat/adat di dalam kawasan hutan dan hal ini dilindungi oleh Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No. 7 Tahun 2003 tentang RUTRWP.

...

Annual Report 2019

Download

Leuser Conservation Program

Fasilitator Wilayah Sumatera bagian Utara

Alamat:

Perumahan Johor Indah Permai – I Blok R No.3 Jln. Karya Wisata, Medan Johor. 20144

Durasi & Bentang Alam

Oktober 2015 – September 2018

Taman Nasional Batang Gadis, Batang Toru, DAS Toba Barat, Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Gunung Leuser, Hutan Dataran Rendah Angkola, Hutan Seulawah - Ulu Masen,

Komitmen

Rp. 3,075,140,000

Tindakan Investigasi Memantau Ekosistem (TIME)

Penyelamatan Kawasan Suaka Margasatwa Dolok Surungan sebagai Habitat Satwa Kunci Harimau Sumatera melalui Program Penyadaran Masyarakat Partisipatif

Komplek Ruko Aek Tapa Blok A no. 5 lt. 2
Jl. Sisingamangaraja, Labuan Batu Kota Rantauprapat Sumatera Utara
CP: Abdullah Siddik
Telp. 0624-22509
Email: abdullahsiddik2@gmail.com

Durasi & Bentang Alam

Oktober 2015-Januari 2016

Batang Toru,

Komitmen

Rp. 100,000,000

Perkumpulan Prakarsa Pengembangan Partisipasi untuk Rakyat (Petra)

Program Inisiatif Konservasi dan Konektivitas Koridor Lansekap Hutan Batang Toru – Taman Nasional Batang Gadis

Jl. Sipirok – Padang Sidempuan km. 5 Desa Simaga-Mago,  Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan 22742
Email: petra.bersama@yahoo.co.id

Durasi & Bentang Alam

Fase 1: Maret 2011-Februari 2014

Fase 2: Februari 2015 – Januari 2017

Taman Nasional Batang Gadis, Batang Toru,

Komitmen

Rp. 6,678,852,000