Yuk! Cari Tahu: Membangun Desa Lewat Data

 

 

 

 

 

poster webinar

Jakarta, Juni 2020.  TFCA-Sumatera mengadakan diskusi daring berjudul “Membangun Desa Lewat Data” pada Kamis, 25 Juni 2020. Diskusi ini mendatangkan sejumlah pembicara untuk berbicara tentang manfaat data untuk membangun desa, baik melalui pengembangan Sistem Informasi Desa,  pengelolaan program Perhutanan Sosial maupun pengembangan sistem data untuk pengelolaan pertanian maupun sebagai alat pengambil keputusan.  Ada sekitar 303 orang dari berbagai latar belakang seperti pegiat LSM, lembaga pemerintah, akademisi dan mahasiswa yang mengikuti diskusi tersebut. Mereka cukup antusias mendengarkan 4 narasumber yang menceritakan pengalaman dan berbagi tips membangun database desa.

Para pembicara sepakat bahwa data memang penting untuk perencanaan, pengelolaan, dan memutuskan kebijakan sebuah organisasi atau pemerintahan. Tetapi saat ini, tantangannya adalah kesadaran mengumpulkan data masih kurang. Salah satu cara mengubah paradigma tersebut adalah menunjukan manfaat penggunaan data kepada user dan para pemangku kebijakan.

Seperti pengalaman Hambali, Pembina Yayasan Mitra Aksi, masyarakat dampingan mereka mau menggunakan dan mengelola data setelah mereka tahu kegunaannya untuk mempermudah administrasi desa dan basis menentukan kebijakan desa. Melalui data, masyarakat di Renah Pelaan, Jangkat, Merangin, tahu berapa potensi hasil produksi desa sehingga mereka dapat membentuk  BUMDes sesuai dengan potensi yang ada. Lewat data juga masyarakat dapat menganalisa tanah-tanah tak produktif di sekitar mereka. Bahkan visi desa yang dihasilkan dalam RPJMDesa juga buah dari adanya data.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Fajar Sumantri, Koordinator Konsorsium Kota Agung Utara (Korut), Lampung.  Ia mengumpulkan data potensi perhutanan sosial yang telah mereka dampingi dalam mendapatkan izinnya. Data tersebut ternyata sangat bermanfaat untuk pengelolaan perhutanan sscial lebih lanjut.  Perencanaan, pengembangan kelembagaan, menganalisis potensi dan hasil panen bisa dihasilkan dengan memanfaatan data yang terus dikembangkan.  Beberapa bantuan dari pemerintah juga dapat tersalurkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sementara Dhimas H. Putranto, dari ICCO Cooperation, juga mengatakan bahwa dengan memanfaatkan geodata, lembaganya dapat memberikan informasi tentang pengelolaan pertanian sesuai dengan kondisi tanah dan iklim yang ada. Dengan demikian, petani dapat mengelola komoditinya berdasarkan scientific based daripada ilmu “kirologi”. Dhimas menambahkan bahwa dengan praktik tersebut, efisiensi produknya dapat meningkat sampai 85%.

Ahmad Baihaki, Konsultan IT dan Lingkungan, sebagai pembicara terakhir juga menegaskan bahwa data akan dianggap penting dan bermanfaat jika dipakai secara terus menerus. Tak perlu alat dan infrastruktur yang canggih untuk membangun data, pada desa kecil dan terpencil misalnya, mereka masih bisa menggunakan table book atau informasi desa untuk membangun data. Alat bisa dicari, tapi kemauan untuk memakainya yang perlu diutamakan. Menurutnya, agar data dapat dipergunakan secara meluas dan dijadikan basis pengambilan data secara umum, manfaat pengelolaan data harus dapat disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar masyarakat mudah mengerti dan mengaplikasikannya. (yan)

Berikut link unduh materi dari pembicara:

Presentasi Webinar – Ahmad Baihaki (Konsultan IT) – Teknologi Membangun Desa

Presentasi Webinar – Fajar S (KORUT) – PENDEKATAN_PASAR_UNTUK_PRODUK_KOMUNITAS_HKM_2020

Presentasi Webinar – Hambali (Mitra Aksi) – Membangun Sistem Informasi Desa

Presentasi Webinar – Dhimas (ICCO) – Membangun Desa Sekitar Hutan Lewat Data