BENTANG ALAM SEMENANJUNG KAMPAR-KERUMUTAN-SENEPIS

 

 

Luas 248.800 hektar, terdiri dari:

  • Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar (28.237 ha)
  • Suaka Margasatwa Tasik Belat (2.529 ha)
  • Suaka Margasatwa Tasik Besar / Tasik Metas (3.200 ha)
  • Suaka Margasatwa Tasik Serkap / Tasik Sarang Burung (6.900 ha)
  • Rawa gambut tidak dilindungi
Sejarah Keseluruhan Semenanjung Siak Kampar, dengan luas total 248.800 hektar, telah ditetapkan sebagai hutan lindung gambut (HLGB) tahun 1994 oleh Pemerintah Provinsi Riau (PERDA N0 10 Tahun 1994).Kawasan ini terletak antara S. Siak dan Kampar. Sungai Siak terletak di sebelah barat laut kawasan sedangkan S. Kampar di sebelah selatan. Batas utara kawasan ini sejajar dengan Selat Panjang. Kawasan ini dapat dicapai melalui S. Siak ataupun melalui jalan di sepanjang pinggir sungai tersebut, bisa juga melalui S. Kampar, sistem pengairan ke Selat Panjang, dan sistem pengairan ke Kampar. Sebagian besar kawasan ini berupa hutan rawa gambut (80%), yang dipergunakan untuk kegiatan kehutanan (75%), sisanya untuk konservasi (15%) dan perkebunan kelapa sawit (10%).
Letak Geografis Terletak di Provinsi Riau, meliputi dua kabupaten – Siak dan Palalawan.
Peta
Tipe Ekosistem Semenanjung Kampar di Propinsi Riau masih memiliki lebih dari 400.000 Ha tutupan hutan rawa gambut. Kawasan hutan rawa gambut Semenanjung Kampar merupakan salah satu hamparan hutan rawa gambut terbesar yang masih tersisa di Sumatera. Kawasan ini merupakan habitat bagi Harimau Sumatera dan beberapa species yang terancam punah. Areal hutan rawa gambut di riau, mengandung potensi sekitar 16,9 Miliar ton karbon. Sementara khusus di areal Semenanjung Kampar, memiliki potensi sekitar 7 miliar ton karbon. Jenis Habitat yang terdapat di Semenanjung Kampar: 1) Danau; 2) Danau umum/lain: garis pantai, hutan; 3) Kawasan Sungai: hutan; 4) Kawasan Sungai hilir: berair terus; 5) Rawa tanpa Gambut: hutan; 6) Rawa Gambut.
Flora Biodiversity Semenanjung Kampar Semenanjung Kampar merupakan daerah dengan tingkat biodiversity yang sangat tinggi, beberapa penelitian yang sudah dilakukan menemukan berbagai jenis pohon dan satwa yang dilindungi di daerah ini. Biodiversas di dalam ekosistem rawa gambut ditandai beberapa pohon komersil, seperti: Ramin (Gonystilus bancanus), Meranti (Shorea spp), Kempas (Kompassia malacensis), Punak (Tetramerista glabra), Terentang (Camnosperma coriaceae), Bintangur (Calophyllum soulatri), Pulai (Alstonia pneumatophora), Rengas (Swintonia penangiana), Rengas (Melanorhoeae sp) dan Bengku (Ganua montleyana)
Fauna Di Suaka Margasatwa Danau Pulu Besar dan Danau Pulau Bawah teridentifikasi jenis burung Bangau storm (Ciconia stormi), Bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), Elang wallace (Spizaetus nanus), Punai besar (Treron capellei), Empuloh paruh-kait (Setornis criniger). Jenis-jenis lain yang teridentifikasi adalah gajah (Elephas maximus), harimau (Panthera tigris), tapir (Tapirus indicus) dan senyulong (Tomistoma schlegelii). Tasik Belat, Tasik Sarang Burung, dan Tasik Serkap merupakan area konservasi kecil yang terpisah-pisah yang merupakan hutan rawa gambut dengan sungai dan danau. Sungai dihuni oleh Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) dan salah satu danau/tasik merupakan tempat berkembangbiak burung air (wetlands database). Jenis-jenis satwa yang dilindungi di Semenanjung Kampar antara lain: Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrensis), Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii), Gajah Asia (Elephas maximus), Egretta sp., Halcyon sp., Rangkong (Buceros rhinoceros), Tapir (Tapirus indicus), Ikan arwana, Ungko (Hylobates agilis), Ciconia stormi, Bluwok (Mycteria cinerea), Setornis criniger, Elang Biliton/Elang Wallace (Spizaetus nanus), Burung Tahun (Rhyticera corrugatus), Punai besar (Treron capellei), Alap-alap jambul (Accipiter trivirgatus), Enggang hitam (Anthracoceros malayanus), Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), Elang bondol (Haliastur indus), Elang kecil (Hieraaetus kienerii), Blue-crowned Hanging Parrot (Loriculus galgulus), Elang belalang (Microhierax fringiella), Punggok (Ninox scutulata), Collared Scops-owl (Otus lempiji), Alap-alap madu (Pernis ptilorhynchus), Long-tailed Parakeet (Psittacula longicauda), Elang ular (Spilornis cheela), Elang hitam (Spizaetus cirrhatus) Fauna dilindungi di bawah IUCN daftar merah, seperti Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrensis), buaya (Tomistoma Schlegelii), Tapir (Tapirus indicus), Gajah Asia (Elephas maximus) dan berbagai burung-burung seperti burung bangau dan badak burung enggang (Buceros badak) di antara banyak yang lain.
Ancaman Utama Tekanan yang dihadapi kawasan ini adalah pembukaan hutan, penebangan pohon baik secara legal maupun ilegal serta pembangunan industri dan infrastruktur (perusahaan minyak dan batu bara). Sekarang, area ini dialokasikan sebagai “Hutan Produksi”. Ini adalah suatu ancaman rumit untuk konservasi hutan, sementara ancaman lain seperti pembalakan tidak sah, perburuan, kebakaran hutan, saluran/kanal yang membuka hutan gambut dan pengembangan jalan penghubung untuk mengangkut batang kayu juga sangat susah untuk dikendalikan. Eksploitasi terbuka dan konversi pada lahan gambut akan menyebabkan pelepasan karbon yang sangat besar yang berpotensi bertambah buruk pada pemanasan global.Konversi/Alih Fungsi Hutan Alam

Konversi/Alih Fungsi Hutan Alam menyebabkan berkurangnya tutupan hutan alam Semenanjung Kampar hampir 257.770 ha selang waktu 1984 hingga 2004. Kondisi eksisting terdapat 8 (delapan) perusahaan yang mengantongi IUPHHK-HT dengan total luasan 214.731,89 ha pada hutan alam di semenanjung Kampar. Perusahaan tersebut antara lain: PT. Satria Perkasa Agung (SK No. 224/Kpts-II/2000), PT. Mitra Hutani Jaya (SK No 522.21/IUPHHK-HT/I/2003/2000), PT. Putra Riau Perkasa (SK. No. 522.21/IUPHHK-HT/V/2002/2000), PT. Balai Kayang Mandiri (SK. No. 05/IUPHHK-HT/II/2003), CV. Bhakti Praja Mulia (SK. No. 522.21/IUPHHK-HT/I/2003/2001), PT. RAPP (SK. No. 1547/Menhut-IV/1996), PT. Arara Abadi (SK. No. 743/Kpts-II/1996), dan CV. Alam Lestari.

Illegal Logging

Illegal logging menjadi momok yang sangat menghawatirkan bagi keberlanjutan hutan alam di semenanjung Kampar. Sebagaimana umumnya modus kegiatan illegal loging di Indonesia, kegiatan illegal loging di Semenanjung Kampar juga telah melibatkan oknum-oknum pemerintah dan penegak hukum di Riau. Masyarakat yang menjadi ujung tobak di lapangan bukan hanya berasal dari masyarakat setempat/lokal namun juga didatangkan dari beberapa daerah di pulau Sumatra.

Kebakaran Lahan

Kebakaran hutan/lahan di Semenanjung Kampar hampir terjadi setiap tahun semenjak adanya aktivitas land clearing secara besar-besaran.

Pembuatan Kanal

Terdapat ratusan jumlah kanal di daerah ini yang mengarah jauh kedalam kawasan hutan alam yang dibuat tanpa melalui sebuah pertimbangan dan perencanaan yang baik, sehingga pada akhirnya menimbulkan penurunan permukaan air secara tak terkendali pada musim kemarau dan gambut yang berada dipermukaan menjadi kering serta mudah terbakar. Selain itu kanal-kanal ini sering dimanfaatkan sebagai alat transportasi oleh illegal loger untuk mengeluarkan kayu-kayu hasil jarahannya. Dalam kurun waktu 12 tahun (1990 – 2002) lahan gambut kawasan timur Sumatra telah hilang seluas 354.244 hektar, dan dalam kurun waktu yang sama luas kawasan gambut dalam di Riau terdegredasi menjadi lahan gambut dangkal seluas 497.244 hektar. Degradasi ini akibat dari aktivitas pembukaan/alih fungsi lahan dan pembuatan kanal. Konversi dan pengeringan mengakibatkan degradasi ekosistem rawa yang tidak dapat dipulihkan lagi. Bila hal itu terus terjadi, lahan-lahan gambut akan mulai membusuk dan akan mengeluarkan karbon ke atmosfir dalam jumlah besar. Permukaan gambut akan menyurut bermeter-meter dan sangat mungkin akan mengakibatkan permukaan tanah tenggelam ke bawah permukaan laut selamanya (Wosten et al. 1997).

Pembuatan Koridor

Pembuatan koridor yang membelah kawasan Semenanjung Kampar menjadi dua bagian oleh PT. RAPP telah menimbulkan masalah baru bagi kawasan ini. Pembukaan koridor ini mendorong meningkatnya aktivitas illegal logging dan okuvasi kawasan hutan di daerah ini oleh masyarakat.

Perburuan Satwa Liar/di Lindungi

Tingginya permintaan pasar terhadap satwa yang dilindung seperti Harimau Sumatra dan jenis-jenis hewan lainnya menyebabkan daerah Semenanjung Kampar ini tidak luput dari incaran para pemburu liar.