...

Taman Nasional Tesso Nilo

LUAS

38.576 hektar



SEJARAH

Taman Nasional Tesso Nilo ditetapkan pada Tanggal 19 Juli Tahun 2004 oleh Menteri Kehutanan melalui KepMenHut No. 255/Menhut-II/2004



TIPE EKOSISTEM

Hutan Tesso Nilo merupakan hutan hujan tropika dataran rendah (lowland tropical rain forest) yang tersisa di Sumatera saat ini. Kawasan hutan Tesso Nilo merupakan perwakilan ekosistem transisi dataran tinggi dan rendah yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

FLORA

Hasil penelitian LIPI dan WWF Indonesia (2003), melaporkan bahwa pencacahan pada petak berukuran 1 hektar, ditemukan 360 jenis yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku dengan rincian jumlah jenis pohon 215 jenis dan anak pohon 305 jenis. Bahkan Tesso Nilo juga disebut-sebut sebagai hutan yang terkaya keanekaragaman hayatinya di dunia dengan ditemukannya 218 jenis tumbuhan vascular di petak seluas 200 m2 oleh Center for Biodiversity Management dari Australia pada tahun 2001. Secara umum kondisi habitat di kawasan ini cukup baik dengan penutupan vegetasi lebih dari 90%.

Beberapa jenis tumbuhan yang ada di Tesso Nilo merupakan jenis yang terancam punah dan masuk dalam data red list IUCN, seperti Kayu Batu (Irvingia malayana), Kempas (Koompasia malaccensis), Jelutung(Dyera polyphylla), Kulim (Scorodocarpus borneensis), Tembesu (Fagraea fragrans), Gaharu (Aquilaria malaccensis), Ramin (Gonystylus bancanus), Keranji (Dialium spp), Meranti-merantian (Shorea spp.), Keruing (Dipterocarpus spp.), Sindora leiocarpaSindora velutinaSindora Brugemanii, dan jenis-jenis durian (Durio spp.) serta beberapa jenis Aglaia spp.

Dari hasil penelitian LIPI (2003) di kawasan hutan Tesso Nilo juga ditemukan tidak kurang dari 83 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat dan 4 jenis tumbuhan untuk racun ikan. Jenis tumbuhan obat dan bahan racun tersebut terdiri dari 80 marga yang termasuk 48 suku dan dapat dimanfaatkan untuk mengatasi sekitar 38 penyakit. Tanaman obat terpenting yaitu jenis yaitu pagago (Centella asiatica) dan patalo bumi (Eurycoma longifolia). Pagago sudah dibudidaya masyarakat lokal ditanam di pekarangan, sedangkan patalo bumi belum dibudidaya padahal sering dimanfaatkan sebagai fitofarmaka dan memiliki nilai jual tinggi.

FAUNA

Kawasan hutan ini mempunyai daerah yang basah dan kering sehingga memungkinkan untuk berkembangnya kehidupan satwa liar, diantaranya gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), rusa (Cervus timorensis russa), siamang (Hylobathes syndactylus syndactylus), beruang madu (Helarctos malayanus malayanus). LIPI dan WWF Indonesia (2003), melaporkan bahwa kawasan Tesso Nilo memiliki indeks keanekaragaman mamalia yang tinggi yakni 3,696; dijumpai 23 jenis mamalia dan dicatat sebanyak 34 (16,5% dari 206 jenis mamalia yang terdapat di Sumatera) jenis dimana 18 jenis berstatus dilindungi serta 16 jenis termasuk rawan punah menurut IUCN.

Daftar jenis mamalia di TNTN yang Dilindungi

No. Species Nama Indonesia Status IUCN
1 Cervus unicolor    Rusa sambar
2 Muntiacus muntjak Kijang mencek
3 Tragulus javanicus Pelanduk kancil  –
4 Tragulus napu Pelanduk napu  –
5 Tapirus indicus Tapir cipan  Vulnerable
6 Elephas maximus sumatranus Gajah sumatera  Endangered
7 Manis javanica Trenggiling peusing  Endangered
8 Helarctos malayanus Beruang madu  Vulnerable
9 Lutrogale perspiciliata Berang-berang  Vulnerable
10 Neofelis nebulosa Macan dahan  Vulnerable
11  Panthera tigris sumatrae Harimau sumatera  Endangered
12  Prionailurus bengalensis                 Kucing kuwuk  –
13 Prionailurus planiceps  Kucing emas  Vulnerable
14 Arctictis binturong  Binturung muntu  Vulnerable
15 Hystrix brachyura  Landak sumatera  Vulnerable
 16 Trachypithecus auratus  Lutung budeng  Vulnerable
17 Hylobates agilis  Owa  Near threatened

Untuk burung, tercatat 114 jenis burung dari 28 famili. Total jenis burung yang ditemukan tersebut merupakan 29% dari total jenis burung di Pulau Sumatera yaitu 397 jenis. Ada satu jenis yang merupakan catatan baru secara ilmiah untuk daerah sebarannya yaitu Kipasan gunung Rhipidura albicollis dan ada jenis endemik Sumatera dan Kalimantan dengan sebaran terbatas dihutan pamah, sudah terancam tetapi belum dilindungi yaitu Empuloh paruh kait Setornis criniger.

Jenis burung yang langka dan atau dilindungi antara lain: Elang ular bido (Spilornis cheela), Alap-alap capung (Microchierax fringillarius), Kuau (Argusianus argus), Ceyx rufidorsa, Lacedo pulchella, Halcyon pileata, Aceros corrugates, Anorrhinus galeritus, Anthracoceros malayanus, Rangkong badak – Buceros rhinoceros, Buceros bicornis, Hypogramma hypogrammicum, Arachnothera crassirostris, Pijantung kecil (Arachnothera longirostra).

Berdasarkan hasil survey LIPI (2003) juga teridentifikasi:

  1. Burung yang berperan dalam mempertahankan ekosistem hutan di Tesso Nilo:
    1. Pemangsa puncak – mengendalikan populasi satwa lain untuk menjaga keseimbangan ekosistem: Elang ular Spilornis cheela
    2. Sebagai penyerbuk: Hypogramma hypogrammicum, (Burung-madu Rimba), Arachnothera longirostris,(Pijantung kecil), Arachnothera crassirostris (Pijantung kampung)
  2. Sebagai pemencar biji yaitu pemakan buah seperti: Julang jambul hitam Aceros corrugates, Enggang klihingan Anorrhinus galeritus, Kangakreng hitam Anthracoceros malayanus, Rangkong badak Buceros rhinoceros, Rangkong papan Buceros bicornis.
    1. Indikator kerusakan hutan: Tukik tikus Sasia abnormis, Caladi badok Meiglyptes tukki
    2. Burung yang tercatat dimanfaatkan penduduk untuk konsumsi: Rangkong badak (Buceros rhinoceros), Kuau (Argusianus argus), Penyul (Rollulus rouloul), Ayam hutan (Gallus gallus), Sempidan (Lophura ignita), Punai lengguak (Treron curvirostra), Punai kecil (Treron olax), Punai bakau (Treron fulvicollis), Punai gagak (Ptilinopus jambu), Walik jambu (Chalcophaps indica).
    3. Burung yang tercatat dipelihara atau diperdagangkan oleh penduduk: Perkutut (Geopelia striata), Nuri tanau (Psittinus cyanurus), serindit (Loriculus galgulus), betet ekor panjang (Psittacula longicauda) dan beo Sumatera (Gracula religiosa).

Jenis ikan yang ditemukan di kawasan Tesso Nilo sebanyak 50 jenis yang mewakili 31 genera, 16 suku dan 4 ordo di Sungai Sawan, Sangkalalo, dan Mamahan. Jumlah ini mencapai 18% dari jumlah jenis ikan yang ada di Pulau Sumatera yaitu sebanyak 272 jenis. Kelimapuluh jenis tersebut terdiri dari Cyprinid (18 jenis),Bagridae (5 jenis), Belontidae (4 jenis), Siluridae (4 jenis), Akysidae (3 jenis), Channidae (3 jenis), Balitoridae(2 jenis), Mastacembelidae (2 jenis), Chacidae (1 jenis), Clariidae (1 jenis), Pristolepididae (1 jenis),Luciocephalidae (1 jenis), Belonidae (1 jenis), dan Hemirhampidae (1 jenis).

Kelompok herpetofauna terdiri dari 33 jenis yang dibedakan lagi menjadi 15 jenis reptilia yaitu 8 jenis ular, 2 jenis londok/bunglon, 2 jenis cicak terbang, 2 jenis buaya air tawar dan 1 jenis bulus/labi-labi. Delapan belas jenis lainnya dari amfibia yaitu 1 jenis katak serasah, 2 jenis kodok, 1 jenis katak percil, 1 jenis katak lekat dan 12 jenis katak (5 jenis katak, 1 jenis bancet dan 6 jenis kongkang) serta 1 jenis katak pohon.

Jenis-jenis serangga yang terdapat di hutan Tesso Nilo yaitu: Kumbang (Coleoptera), Cocopet (Dermaptera), Lalat (Diptera), Kepik (Hemiptera), Tonggeret/Wereng (Homoptera), Lebah, tawon, semut (Hymenoptera), Laron (Isoptera), Kupu dan Ngengat (Lepidoptera), Undur-undur (Neuroptera), Capung dan capung jarum (Odonata), Belalang, jangkrik, kecoa (Orthoptera).

ANCAMAN

Ancaman yang paling nyata terhadap kawasan hutan TNTN adalah pembalakan liar dan penjarahan lahan. Pembalakan liar terjadi hampir diseluruh wilayah di dalam hutan Tesso Nilo. Hal tersebut dipicu oleh kondisi ekonomi masyarakat di sekitar hutan serta kebutuhan akan kayu yang demikian tinggi, ditambah lagi adanya akses ke dalam hutan yang sudah cukup lancar dengan dibangunnya koridor-koridor jalan di dalam hutan oleh bekas HPH dan perusahaan-perusahaan besar seperti RAPP. Pengawasan yang lemah dari instansi pemerintah di bidang ini juga menyebabkan aktivitas pembalakan liar dapat berlangsung dengan leluasa.

Penjarahan dan klaim lahan juga banyak dijumpai di kawasan hutan Tesso Nilo. Pelaku penjarahan dan klaim lahan umumnya adalah masyarakat setempat yang kondisi ekonominya terbatas serta memerlukan lahan untuk memperluas kebun dan menggantungkan hidupnya. Namun dijumpai juga adanya masyarakat luar yang ikut melakukan pelanggaran ini. Masyarakat dari luar biasanya diundang oleh elite desa yang memiliki kepentingan untuk menguasai lahan yang pada gilirannya akan mengkonversi hutan menjadi lahan perkebunan. Disamping itu, spekulan tanah juga mulai bermunculan dengan tujuan memperjual-belikan lahan dan membuat kebun sawit.

Degradasi hutan Tesso Nilo yang terus menerus tersebut juga mengancam kekayaan hayati yang dikandungnya. Kehilangan habitat merupakan faktor utama yang mengancam kelestarian satwa besar seperti gajah dan harimau di kawasan tersebut. Berkurangnya habitat mengakibatkan meningkatkan frekuensi konflik antara masyarakat dan perusahaan perkebunan dengan gajah. Konflik antara masyarakat dengan harimau juga dijumpai pada beberapa lokasi. Konflik yang terjadi ini biasanya diakhiri dengan terbunuhnya gajah atau harimau yang dianggap mengganggu.

Perambahan hutan merupakan pembukaan lahan dalam hutan yang digunakan untuk lahan perladangan, pemukiman dan lain-lain. Kegiatan perambahan yang sering terjadi di dalam kawasan yaitu penyerobotan lahan oleh penduduk sekitar maupun oleh pihak perusahaan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional. Kegiatan perambahan ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi kawasan TNTN, dampak tersebut antara lain: menimbulkan erosi, banjir, longsor, hutan menjadi gundul, dan merusak keseimbangan keaneragaman hayati berserta ekosistemnya.

Berdasarkan laporan tahunan TNTN tahun 2008, bentuk gangguan kawasan lain yang terjadi selama tahun 2008 adalah sebagai berikut:

  • Pencurian kayu dan penebangan liar oleh masyarakat yang disinyalir untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kayu untuk memenuhi kebutuhan pembuatan rumah warga yang berada disekitar taman nasional.
  • Penyerobotan kawasan hutan oleh masyarakat disekitar taman nasional untuk kepentingan perladangan.
  • Tumpang tindih penggunaan kawasan taman nasional dengan pemukiman masyarakat tradisional dan Perusahaan seperti PT. RAPP, PT. RPI dan PT. Inti Indosawit.
  • Pembukaan lahan hutan untuk perladangan dan kebun oleh masyarakat yang berada dan bermukim di dalam taman nasional.
...

Annual Report 2019

Download
...

Kajian Potensi EKowisata di 7 Taman Nasional Pulau Sumatera

Download

Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo

Tanggap Darurat dan Pengelolaan Inovatif Gajah di Riau dengan Dukungan Multi-pihak

Anggota Konsorsium: WWF Indonesia Program Riau; Universitas Riau

Durasi & Bentang Alam

1 Agustus 2017 – 31 Juli 2020

Taman Nasional Tesso Nilo,

Komitmen

Rp. 10.203.348.400

Pundi Sumatra

Fasilitator Wilayah Sumatra bagian Tengah dan Selatan

Jl. Prof. M. Yamin No 06 Simpang Pulai
Kel. Payo Lebar, Jelutung – Jambi, 36135
Telp/Fax : +62 741 670862

Durasi & Bentang Alam

Oktober 2015 – September 2018

Ekosistem Kerinci Seblat, Ekosistem Sembilang - Taman Nasional Berbak, Kerumutan-Semenanjung Kampar-Senepis, Taman Nasional Siberut dan Kepulauan Mentawai, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Taman Nasional Tesso Nilo, Taman Nasional Way Kambas,

Komitmen

Rp. 3,438,795,000

Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo

Perlindungan Ekosistem Tesso Nilo Melalui Peningkatan Kapasitas, Perlindungan dan Pemantapan serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan

Anggota Konsorsium:
Riau Woman Working Group (RWWG), Forum Masyarakat Tesso Nilo (FMTN), Sumatra Sustainable Fund (SSF), WWF Riau

Jl. Cengkeh No. 23 A Kel. Tangkerang Labuai Kec. Bukit Raya, Pekanbaru, Propinsi Riau
Tel/Fax: 0761 7874425; Fax: 0761 7874426
Email: yayasan_tn_tessonilo@yahoo.co.id
Website: www.ytntn.org

Durasi & Bentang Alam

Juni 2012 – Desember 2017

Taman Nasional Tesso Nilo,

Komitmen

Rp. 7,161,386,000